UNJ Gelar Pagelaran “Etah Marsimalungun, Patunggunghon Simalungun”, Dihadiri Sekitar 500 Pengunjung
Jakarta, 10 Oktober 2026| Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara bertajuk “Etah Marsimalungun, Patunggunghon Simalungun” di Rumah Bolon Simalungun, Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Sabtu (10/10/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 500 pengunjung ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen UNJ melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026.
Program ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), sebagai upaya mendorong pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan seni budaya Nusantara melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdi UNJ yang diketuai oleh Triadil Saragih, dengan anggota Dian Herdiati dan Gandung Joko Srimoko, serta melibatkan mahasiswa dalam pelaksanaan program. Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi bermitra dengan Sanggar Bhatara Guru dan Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk mendukung pengembangan atraksi musik tradisional Simalungun sekaligus memperluas ruang apresiasi dan edukasi budaya kepada masyarakat.
Kelanjutan Program Pelatihan Musik Tradisional Simalungun
Pagelaran ini merupakan kelanjutan dari program pelatihan alat musik tradisional Gondrang Simalungun yang telah dilaksanakan beberapa bulan sebelumnya. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang secara berkelanjutan, mulai dari pengenalan dan pelatihan musik tradisional hingga pengembangan atraksi seni yang dapat ditampilkan kepada masyarakat luas.
Melalui pendekatan tersebut, program pengabdian tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan bermusik, tetapi juga pada upaya menghidupkan kembali praktik seni tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Simalungun.
Mengusung tema “Etah Marsimalungun, Patunggunghon Simalungun”, yang mengandung ajakan untuk bersama-sama meneguhkan dan mengangkat martabat budaya Simalungun, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara seniman, budayawan, tokoh masyarakat, generasi muda, dan masyarakat umum untuk merayakan kekayaan budaya Nusantara.
Rangkaian kegiatan menghadirkan pentas seni tradisional Simalungun, lokakarya dan zona interaktif melalui pelatihan alat musik Gondrang Simalungun, serta bazar kuliner dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mengenal dan berinteraksi langsung dengan seni budaya Simalungun.
Pelatihan yang dilaksanakan sebelumnya menjadi fondasi penting bagi pengembangan atraksi musik tradisional. Melalui pagelaran ini, seni musik Simalungun memperoleh ruang untuk ditampilkan, diapresiasi, dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.
Kolaborasi UNJ, Sanggar Bhatara Guru, dan Anjungan Sumatera Utara TMII
Kemitraan antara UNJ, Sanggar Bhatara Guru, dan Anjungan Sumatera Utara TMII menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi perguruan tinggi, komunitas seni, dan pengelola ruang budaya ini mempertemukan potensi akademik dengan pengalaman praktis pelaku seni dalam menjaga keberlanjutan tradisi.
Sanggar Bhatara Guru menjadi mitra dalam upaya pelestarian dan pengembangan praktik musik tradisional Simalungun, sedangkan Anjungan Sumatera Utara TMII menjadi ruang penyelenggaraan kegiatan sekaligus sarana pengenalan budaya kepada masyarakat dari berbagai latar belakang.
Melalui kolaborasi tersebut, Rumah Bolon Simalungun diharapkan tidak hanya menjadi simbol identitas budaya, tetapi juga berkembang sebagai ruang pertunjukan, pembelajaran, dokumentasi, dan promosi kebudayaan yang aktif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat. Melalui keterlibatan langsung dalam pelaksanaan program, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam berkolaborasi dengan komunitas, mengelola kegiatan seni budaya, dan memahami praktik pelestarian budaya berbasis kearifan lokal.
Dihadiri Sekitar 500 Pengunjung
Pagelaran ini dihadiri sekitar 500 pengunjung yang datang untuk menyaksikan pertunjukan dan menikmati berbagai kegiatan seni budaya yang diselenggarakan. Selain pengunjung yang hadir secara langsung, kegiatan ini juga disaksikan oleh masyarakat melalui siaran langsung (live streaming), sehingga informasi mengenai seni dan budaya Simalungun dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dukungan dari para tokoh Simalungun, orang tua, seniman, pengisi acara, komunitas budaya, sponsor, serta berbagai pihak lainnya turut berkontribusi terhadap kesuksesan kegiatan. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan dukungan dan keterlibatan bersama dari berbagai unsur masyarakat.
Pemanfaatan media publikasi dan dokumentasi juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan promosi budaya. Dengan dukungan tersebut, kegiatan pelestarian seni tradisional diharapkan tidak hanya memberikan dampak pada saat pagelaran berlangsung, tetapi juga menjadi sumber informasi dan pembelajaran bagi generasi mendatang.

Triadil Saragih: Program Pelestarian Budaya Perlu Dilanjutkan
Ketua tim pengabdi, Triadil Saragih, menekankan pentingnya kesinambungan program agar upaya pelestarian seni budaya tidak berhenti pada pelatihan atau satu kali pertunjukan.
Menurutnya, pengembangan seni budaya memerlukan proses berkelanjutan melalui pengenalan, pelatihan, pendampingan, pengembangan atraksi, dokumentasi, dan promosi kepada masyarakat luas. Dengan demikian, seni tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus dipraktikkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
Program ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan diperluas sehingga semakin banyak seni dan budaya Nusantara yang dapat dilestarikan. Keberlanjutan program juga diharapkan memperkuat peran Rumah Bolon Simalungun sebagai ruang aktivitas budaya yang hidup, produktif, dan memberikan manfaat bagi komunitas seni maupun masyarakat.
Melalui kegiatan ini, UNJ menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menjaga keberagaman budaya Indonesia. Pengabdian kepada masyarakat melalui seni dan budaya menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat identitas kebangsaan, dan mendukung pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Apresiasi kepada DPPM Kemendiktisaintek dan Seluruh Mitra
Tim pengabdi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026 sehingga rangkaian kegiatan pengembangan atraksi musik tradisional Simalungun dapat terlaksana.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong perguruan tinggi untuk berkontribusi terhadap pelestarian dan pengembangan seni budaya Nusantara melalui program pengabdian yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Negeri Jakarta, Sanggar Bhatara Guru, Anjungan Sumatera Utara TMII, para tokoh Simalungun, seniman, pengisi acara, mahasiswa, sponsor, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, tenaga, doa, dan partisipasi demi kesuksesan kegiatan ini.
Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pengembangan seni budaya berbasis pengabdian kepada masyarakat yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas seni, mitra budaya, dan masyarakat, semakin banyak warisan budaya Nusantara diharapkan memperoleh ruang untuk dipelajari, dikembangkan, didokumentasikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Pagelaran “Etah Marsimalungun, Patunggunghon Simalungun” membawa pesan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Dengan semangat kebersamaan, kolaborasi, dan keberlanjutan, budaya Simalungun diharapkan terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan generasi masa kini maupun generasi mendatang.
Etah Marsimalungun, Patunggunghon Simalungun, bersama menjaga warisan leluhur, menghidupkan budaya, dan mewariskannya kepada masa depan. (Dh.L./Red.***)
