SIAPA BILANG PENULIS TIDAK BEKERJA?
Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
“Mengapa Kita Masih Menganggap Menulis Bukan Pekerjaan?”
Coba kita bertanya kepada sepuluh orang, “Kalau membayangkan seorang penulis, seperti apa sosoknya?”
Mungkin sembilan orang akan menjawab dengan gambaran yang hampir sama. Seorang kakek. Pensiunan. Duduk di teras rumah. Berkacamata tebal. Secangkir kopi di samping laptop. Sesekali mengetik sambil mengenang masa lalu.
Gambaran itu memang tidak sepenuhnya keliru. Banyak orang mulai serius menulis ketika memasuki masa pensiun. Mereka memiliki lebih banyak waktu untuk membaca, berpikir, mengingat pengalaman dan menuangkannya ke dalam tulisan.
Persoalannya muncul ketika gambaran tersebut berubah menjadi stereotip. Penulis kemudian dipersepsikan sebagai orang yang sudah tidak memiliki pekerjaan lain. Menulis dianggap sebagai aktivitas pengisi waktu luang.
Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang.
Menulis adalah pekerjaan intelektual. Produk akhirnya memang tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi proses produksinya membutuhkan pengetahuan, pengalaman, riset, analisis, kreativitas dan ketekunan.
Mengapa profesi penulis masih sering dianggap sebagai pekerjaan orang yang sudah tidak punya pekerjaan?
Pertama, hasil kerja penulis tidak selalu langsung terlihat.
Seorang tukang bangunan bekerja hari ini dan kita dapat melihat perubahan fisik bangunan pada hari yang sama. Seorang pedagang berjualan dan menerima uang dari transaksi. Hasil kerjanya mudah dikenali.
Penulis bekerja dengan cara berbeda.
Hari ini seorang penulis mungkin menghabiskan berjam-jam membaca berbagai sumber. Ia melakukan wawancara. Memeriksa data. Menyusun argumen. Menulis 1.500 kata. Kemudian menghapus sebagian besar tulisannya. Ia membaca kembali naskah tersebut. Mengubah judul. Memperbaiki struktur. Melakukan penyuntingan. Bahkan mungkin mengulang proses itu beberapa kali.
Hasilnya belum tentu langsung menghasilkan uang.
Tulisan bisa saja tidak dibaca. Artikel bisa ditolak editor. Buku bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum diterbitkan. Bahkan setelah terbit, belum tentu langsung menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
Karena proses tersebut tidak selalu terlihat, masyarakat sering menganggap penulis hanya duduk dan mengetik.
Padahal yang bekerja bukan hanya jari.
Pikiran bekerja lebih keras.
Di balik satu tulisan yang baik terdapat proses membaca, mengingat, membandingkan, mempertanyakan, menganalisis dan menyusun gagasan. Seorang penulis mengolah informasi menjadi pengetahuan yang dapat dipahami orang lain.
Kita sering mengukur kerja berdasarkan keringat yang terlihat. Jika seseorang mengangkat semen selama delapan jam, kita segera memahami bahwa ia bekerja keras. Jika seseorang duduk di depan komputer selama delapan jam untuk membaca 20 sumber, melakukan analisis dan menulis sebuah artikel, kita sering tidak memberikan penilaian yang sama.
Padahal tubuh yang diam tidak berarti pikiran berhenti bekerja.
Kedua, menulis memang membutuhkan waktu dan ruang berpikir.
Di sinilah muncul stereotip lain. Siapa yang memiliki waktu untuk menulis?
Pensiunan sering menjadi jawabannya.
Anak muda bekerja dari pagi sampai sore. Sebagian menghadapi perjalanan panjang menuju tempat kerja. Setelah pulang, masih ada pekerjaan rumah, keluarga dan berbagai kebutuhan lain. Pada malam hari, sebagian memilih hiburan digital untuk beristirahat.
Orang tua juga memiliki tanggung jawab keluarga. Mahasiswa menghadapi kuliah, tugas, penelitian, skripsi dan pekerjaan sambilan. Pelaku usaha menghadapi pelanggan, administrasi, pemasaran dan persoalan operasional.
Sementara itu, pensiunan mungkin memiliki ruang waktu yang lebih longgar.
Anak-anak sudah dewasa. Sebagian kewajiban pekerjaan telah selesai. Jadwal menjadi lebih fleksibel. Pada fase inilah seseorang memiliki kesempatan untuk kembali membaca, mengingat pengalaman hidup dan menulis.
Karena banyak penulis produktif muncul pada usia tersebut, masyarakat kemudian menghubungkan aktivitas menulis dengan usia tua.
Padahal banyak penulis muda bekerja secara diam-diam.
Mereka menulis setelah pekerjaan kantor selesai. Mereka menulis ketika anak sudah tidur. Mereka menulis pada akhir pekan. Mereka menulis di sela perjalanan. Mereka menulis menggunakan telepon genggam ketika memiliki waktu beberapa menit.
Mereka tidak selalu terlihat sebagai “penulis” karena profesi utamanya berada di bidang lain.
Seorang dokter dapat menjadi penulis. Seorang dosen dapat menjadi penulis. Seorang wartawan dapat menjadi penulis. Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi penulis. Seorang mahasiswa dapat menjadi penulis. Seorang pengusaha dapat menjadi penulis.
Profesi utama dan aktivitas menulis tidak selalu berada pada ruang yang berbeda.
Ketiga, persoalannya berkaitan dengan ekonomi.
Kita masih hidup dalam budaya yang sering lebih mudah menghargai pekerjaan ketika hasil fisiknya terlihat dan pendapatannya dapat dihitung secara langsung.
Seorang pekerja membangun rumah selama satu bulan dan menerima upah tertentu. Kita memahami hubungan antara pekerjaan dan penghasilan.
Seorang penulis dapat menghabiskan waktu satu tahun untuk menyusun sebuah buku. Setelah buku terbit, pendapatannya mungkin tidak sebanding dengan waktu yang ia gunakan.
Di sinilah muncul pertanyaan yang sering diterima penulis.
“Kerja apa?”
“Penulis.”
“Oh, pekerjaan utamanya apa?”
Pertanyaan itu memperlihatkan bagaimana masyarakat memandang pekerjaan intelektual.
Seolah-olah menulis bukan pekerjaan utama. Seolah-olah gagasan tidak memiliki nilai ekonomi. Seolah-olah kemampuan menyusun kata dapat muncul tanpa latihan, pendidikan, pengalaman dan proses panjang.
Padahal hampir seluruh aktivitas ekonomi modern membutuhkan kemampuan menulis.
Perusahaan membutuhkan proposal. Pemerintah membutuhkan dokumen kebijakan. Sekolah membutuhkan buku ajar. Media membutuhkan berita. Organisasi membutuhkan laporan. Pengusaha membutuhkan materi promosi. YouTuber membutuhkan naskah. Pengembang teknologi membutuhkan dokumentasi. Pencari kerja membutuhkan surat lamaran dan curriculum vitae.
Bahkan sebuah iklan berdurasi 30 detik membutuhkan gagasan yang dirumuskan melalui kata-kata sebelum diproduksi menjadi gambar dan suara.
Jadi, gagasan tidak pernah benar-benar gratis.
Keempat, masyarakat modern sebenarnya berjalan dengan bantuan para penulis.
Bayangkan jika dalam satu hari semua penulis berhenti bekerja.
Tidak ada berita yang ditulis. Tidak ada buku baru. Tidak ada artikel ilmiah. Tidak ada naskah pidato. Tidak ada materi pembelajaran. Tidak ada proposal. Tidak ada laporan. Tidak ada naskah film. Tidak ada skrip video. Tidak ada caption promosi.
Bahkan berbagai dokumen penting dalam kehidupan bernegara membutuhkan bahasa tertulis.
Konstitusi dirumuskan melalui bahasa. Undang-undang menggunakan bahasa. Kebijakan publik membutuhkan dokumen. Sejarah bangsa diwariskan melalui tulisan. Pengetahuan ilmiah berkembang melalui publikasi.
Tulisan membantu kita menyimpan pengalaman dan menyebarkan pengetahuan melampaui batas waktu.
Seorang kakek yang menulis memoar sedang menyimpan sejarah keluarganya. Ia memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk memahami siapa leluhur mereka.
- Seorang anak muda yang menulis tentang korupsi sedang menggunakan gagasan untuk mengkritik kekuasaan.
- Seorang ibu yang menulis cerita untuk anaknya sedang membangun ruang imajinasi.
- Seorang guru yang menulis buku sedang memperluas pengetahuan muridnya.
- Seorang jurnalis yang menulis laporan sedang membantu masyarakat memahami sebuah peristiwa.
- Seorang akademisi yang menulis penelitian sedang menambahkan pengetahuan ke dalam percakapan ilmiah.
Semua itu merupakan bentuk kerja.
Karena itu, kita perlu membedakan antara pekerjaan yang menghasilkan benda dan pekerjaan yang menghasilkan pengetahuan.
Tidak semua hasil kerja harus berbentuk barang.
Ada pekerjaan yang menghasilkan bangunan. Ada yang menghasilkan makanan. Ada yang menghasilkan teknologi. Ada pula yang menghasilkan gagasan.
Penulis bekerja pada wilayah terakhir.
Ia mengubah pengalaman menjadi narasi. Mengubah data menjadi informasi. Mengubah informasi menjadi pengetahuan. Dalam kondisi tertentu, ia juga dapat mengubah pengetahuan menjadi kesadaran sosial.
Karena itu, kita perlu berhenti menggunakan ukuran fisik sebagai satu-satunya ukuran produktivitas.
Seseorang yang duduk diam selama lima jam belum tentu tidak bekerja.
Ia mungkin sedang membaca. Ia mungkin sedang menyusun argumen. Ia mungkin sedang memecahkan persoalan yang tidak terlihat oleh orang lain.
Kita juga perlu berhenti menjadikan usia sebagai identitas utama seorang penulis.
Kakek boleh menjadi penulis.
Namun anak muda juga boleh menjadi penulis.
Pensiunan boleh menulis memoar. Mahasiswa boleh menulis kritik sosial. Pekerja kantoran boleh menulis novel. Ibu rumah tangga boleh menulis buku anak. Pengusaha boleh menulis pengalaman bisnis. Guru boleh menulis buku pendidikan.
Tidak ada usia yang secara khusus memiliki hak atas dunia kepenulisan.
Menulis merupakan aktivitas manusia untuk berpikir, merekam pengalaman dan menyampaikan gagasan.
Karena itu, ketika kita melihat seorang kakek duduk di teras dengan laptop dan secangkir kopi, jangan buru-buru bertanya, “Tidak ada kerjaan, Kek?”
Pertanyaan itu mungkin terlalu kecil untuk menggambarkan apa yang sedang ia lakukan.
Lebih baik kita bertanya, “Kek, sedang menulis apa?”
Kemudian, jika memungkinkan, lanjutkan dengan pertanyaan sederhana.
“Boleh saya baca?”
Sebab mungkin di dalam tulisan seorang kakek terdapat pengalaman yang tidak pernah kita pelajari di sekolah.
Mungkin di dalam tulisan seorang anak muda terdapat gagasan yang dapat mengubah cara kita melihat masa depan.
Mungkin di dalam tulisan seorang ibu terdapat cerita yang kelak menjadi ingatan berharga bagi anak-anaknya.
Dan mungkin di dalam tulisan kita sendiri terdapat gagasan yang suatu hari dibutuhkan oleh orang lain.
Penulis bukan orang yang kehilangan pekerjaan.
Penulis adalah orang yang memilih bekerja dengan pikirannya.
Kita membutuhkan lebih banyak orang yang mau membaca, berpikir dan menulis.
Sebab bangsa yang kuat tidak hanya membutuhkan orang yang mampu bekerja dengan tangannya. Kita juga membutuhkan orang yang mampu mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi gagasan dan gagasan menjadi tulisan.
Tulisan membuat pikiran dapat melampaui usia penulisnya.
Karena itu, jangan lagi melihat penulis hanya sebagai kakek yang duduk di teras sambil minum kopi.
Lihat proses berpikir yang sedang berlangsung di balik layar.
Mungkin di sana sedang lahir sebuah gagasan.
Dan sebuah gagasan yang ditulis dengan serius dapat menjadi bagian dari pengetahuan milik kita bersama.
Bekasi, Hari Merdeka 2026
Dr. Dharma Leksana
