Merajut Harmoni Lintas Iman, Kesbangpol Jakarta Timur Perkuat Sinergi dengan WKPUB
Detik-news.com – Jakarta, Langit Pulo Gebang siang itu cerah. Senin, 23 Februari 2026, pukul 13.00 WIB, Ruang Rapat Utama Suku Badan Kesbangpol Kota Administrasi Jakarta Timur di Gedung Walikota Blok D Lantai 11 menjadi saksi pertemuan strategis yang sarat pesan kebangsaan. Audiensi antara jajaran pemerintah dan Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama Jakarta Timur menandai babak baru gerakan lintas iman di ibu kota.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut surat Ketua Umum WKPUB Jakarta Timur Nomor 004/WKPUB/I/2026 tertanggal 16 Januari 2026. Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Administrasi Jakarta Timur, Eliazer Hutapea, merespons cepat dengan menetapkan audiensi resmi.
Hadir dalam forum tersebut Kepala Bagian Pemerintahan Setko Administrasi Jakarta Timur, Tim Terpadu Ormas, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Timur, serta jajaran pengurus WKPUB.
Dari WKPUB, hadir Pdt. Hosea Sudarna selaku Ketua Umum, Budhi Hutomo sebagai Sekjen, Mindarti Bendahara Umum, Alice Rahman Wakil Bendahara, Nata Amban Ketua Bidang Humas, Gus Hafas Alawi dari Pesantren Inggris, Triyas Koordinator AISA, Efrant Domen Humas, M. Hutagalung, Carlla Paulina Humas, dan Dharma Leksana bidang media dan komunikasi. Dari unsur pemerintah, Eliazer Hutapea didampingi Endah, Erni, dan Mona P. Bagian Pemerintahan diwakili Anas. FKUB diwakili Romo Frans Dwikoco dan Abdul Rosid.

Pdt. Hosea Sudarna membuka audiensi dengan apresiasi atas respons cepat pemerintah. Ia memaparkan profil WKPUB yang telah berkiprah selama 27 tahun merawat kerukunan lintas iman di Jakarta Timur. Sejak memperoleh legalitas resmi melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-0011467.AH.01.07.TAHUN 2023, WKPUB kini berbadan hukum sebagai perkumpulan.
WKPUB memosisikan diri sebagai organisasi kemasyarakatan yang fokus pada penguatan moderasi beragama. Programnya konkret. Mereka menggelar doa lintas agama. Mereka turun ke masyarakat melalui layanan kesehatan pencegahan stunting bersama pemerintah daerah. Mereka membina pemuda lintas iman. Mereka melakukan studi banding ke institusi teologi seperti Fakultas Teologi UKSW, Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, dan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Jakarta untuk memperdalam dialog antariman.
Eliazer Hutapea menyambut paparan itu dengan antusias. Ia mengaku telah menyaksikan langsung kiprah WKPUB, termasuk kegiatan Syukur Awal Tahun 2026 di HKBP Kramat Jati. Dalam acara tersebut, doa lintas agama dan pertunjukan budaya lintas iman digelar dalam satu panggung. Ia menyoroti penampilan marawis oleh Gus Hafas dan tim di dalam gereja sebagai simbol konkret toleransi.
“Saya sangat mendukung agar WKPUB bersinergi lebih baik lagi dengan pemerintah. Kami mengapresiasi kiprah 27 tahun WKPUB yang konsisten menjalankan visi misi secara mandiri,” tegas Eliazer.
Ia bahkan mendorong agar kiprah WKPUB diperluas ke skala provinsi atau nasional. Kesbangpol, katanya, siap menjembatani sesuai tugas dan fungsi pembinaan organisasi kemasyarakatan. Kehadiran FKUB dan Bagian Pemerintahan dalam forum itu menjadi langkah awal membangun kolaborasi yang lebih sistematis.
Anas dari Bagian Pemerintahan Kota Jakarta Timur menegaskan kesiapan pemerintah untuk bersinergi selama legalitas organisasi terpenuhi. Ia membuka ruang tindak lanjut konkret pasca pertemuan.
Romo Frans Dwikoco dari FKUB Jakarta Timur menyatakan dukungan formal atas kerja sama yang lebih intensif. Ia menilai visi WKPUB sejalan dengan mandat FKUB dalam menjaga harmoni umat beragama. FKUB siap merekomendasikan kegiatan bersama sebagai bentuk kolaborasi resmi.
Audiensi berlangsung hangat dan produktif. Dialog tidak berhenti pada seremoni. Semua pihak menyepakati pentingnya kemitraan berkelanjutan dalam merawat kemajemukan Jakarta Timur yang dihuni beragam agama, suku, dan budaya.
Di akhir pertemuan, Eliazer menyampaikan kalimat yang memantik optimisme. “Matahari terbit dari timur. WKPUB akan terbit lebih besar dari Jakarta Timur.”
Pesan itu bukan sekadar retorika. Ia menjadi sinyal bahwa gerakan lintas iman yang tumbuh dari akar komunitas kini mendapat legitimasi dan dukungan struktural. Jika sinergi ini konsisten dijaga, Jakarta Timur berpotensi menjadi model kolaborasi pemerintah dan masyarakat sipil dalam merawat kebinekaan Indonesia.
(Mas Dharma EL/Red.***)
