PWGI Rekam Jejak Toleransi Lintas Agama di Slawi
Detik-news.com – Slawi, Kabupaten Tegal| Kerukunan antarumat beragama di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tumbuh melalui interaksi sosial, kepedulian terhadap sesama dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Di wilayah ini, umat Islam, Kristen, Buddha, Hindu, penganut Tri Dharma serta penghayat kepercayaan menjalankan tradisi masing-masing sekaligus membangun hubungan sosial yang melampaui perbedaan keyakinan.
Jejak kerukunan tersebut menjadi perhatian Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI) yang melakukan penelusuran lapangan pada 26 hingga 27 Oktober 2026. Melalui kegiatan bertajuk “Merekam Toleransi Lintas Agama di Slawi Kabupaten Tegal”, PWGI berupaya mendokumentasikan praktik toleransi sekaligus merekonstruksi model kerukunan antarumat beragama di tingkat akar rumput.
Tim PWGI terdiri atas Ketua Umum Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si., Sekretaris Umum Ribut Karyono, M.Th., Bendahara Umum Carlla Paulina Waworuntu, M.Th., serta salah seorang Dewan Pendiri PWGI, Pdt. KRT. Dr. Sugeng Prihadi, M.Th., M.Min., yang juga melayani sebagai pendeta jemaat di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Slawi.

Gereja Kristen Jawa Slawi menjadi titik kumpul kegiatan tersebut. Perjalanan diawali dengan pertemuan bersama Alex, salah seorang tokoh Buddha, pada Senin malam, 26 Oktober 2026.
Dalam pertemuan itu, Alex menyampaikan bahwa hubungan antarumat beragama di Kabupaten Tegal telah terbangun sejak lama. Menurutnya, kerukunan terlihat melalui berbagai kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat lintas iman.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pintu masuk bagi PWGI untuk memahami bahwa toleransi perlu dilihat melalui pengalaman konkret warga, pola hubungan sosial dan kesediaan setiap kelompok untuk hidup berdampingan.
Menelusuri Keberagaman di Slawi
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, tim melanjutkan penelusuran ke sejumlah komunitas agama dan penghayat kepercayaan. Lokasi yang dikunjungi mencakup Kejawen Maneges, Kelenteng Hok Ie Kiong, Vihara Buddha Sasana Dipa, komunitas Hindu melalui PHDI dan Pura Mitra Kencana Dewa, serta lingkungan masjid dan pondok pesantren yang dipimpin Gus Akip.
Setiap tempat menghadirkan karakter, tradisi dan tata kelola keagamaan yang berbeda. Namun, keberadaan komunitas-komunitas tersebut menunjukkan bahwa kehidupan beragama di Slawi memiliki keragaman yang perlu dipahami melalui dialog dan pengalaman langsung.
Kejawen Maneges, misalnya, menjadi bagian dari kehidupan spiritual dan kebudayaan masyarakat Kabupaten Tegal. Organisasi penghayat kepercayaan ini mengembangkan tradisi Jawa melalui ajaran moral, ritual adat dan pelestarian kebudayaan. Pusat kegiatan spiritualnya berada di Pendapa Wiragati, Jalan Tapel Wates Nomor 38, Penusupan, Kecamatan Pangkah.
Keberadaan komunitas penghayat kepercayaan memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai kerukunan perlu memberi ruang kepada beragam ekspresi spiritual dan tradisi lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Dari komunitas penghayat kepercayaan, perjalanan berlanjut ke Kelenteng Hok Ie Kiong di Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 18, Slawi. Kelenteng yang berdiri sejak 1915 ini menjadi pusat peribadatan dan kegiatan keagamaan komunitas Tri Dharma.
Kelenteng tersebut berada di bawah naungan Yayasan Adhi Dharma Slawi. Dalam kompleksnya, terdapat penghormatan kepada Presiden keempat Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, atas kontribusinya terhadap pengakuan hak-hak sipil masyarakat Tionghoa dan umat Khonghucu.
Bagi masyarakat Slawi, keberadaan kelenteng ini juga berkaitan dengan kegiatan sosial dan kebudayaan yang melibatkan warga dari berbagai latar belakang.

Kelenteng Menjadi Ruang Pertemuan Lintas Iman
Hok Ie Kiong memperlihatkan bagaimana tempat ibadah dapat berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Aktivitas sosial dan kebudayaan di kompleks kelenteng membuka kesempatan bagi warga untuk bertemu, berdialog dan membangun hubungan lintas agama.
Salah satu wadah yang berkembang ialah Forum Silaturahmi Nusantara (FSN) Kabupaten Tegal. Forum ini menghimpun pemuda dan masyarakat lintas iman, termasuk Muslim, Kristen, Hindu, Buddha, Khonghucu serta penghayat Kejawen.
Melalui kegiatan seni budaya, sarasehan dan aksi kebangsaan, forum tersebut menyediakan ruang perjumpaan bagi generasi muda dengan latar belakang keyakinan yang berbeda.
Kegiatan sosial Kelenteng Hok Ie Kiong juga mencakup pembagian takjil pada bulan Ramadan dan bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan. Sementara itu, kegiatan kebudayaan seperti kirab dan festival kuliner melibatkan masyarakat serta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa hubungan lintas iman dapat berkembang melalui aktivitas sosial yang dekat dengan kebutuhan warga. Masyarakat bertemu sebagai tetangga, pelaku usaha, relawan dan sesama warga yang memiliki kepentingan bersama.
Vihara dan Pura dalam Kehidupan Masyarakat
Penelusuran PWGI juga mencakup Vihara Buddha Sasana Dipa di Jalan Jenderal Sudirman, Curah, Slawi Wetan. Vihara ini menjadi pusat pembinaan umat Buddha aliran Theravada di bawah pembinaan Saṅgha Theravāda Indonesia.
Y.M. Bhikkhu Dr. Jotidhammo Mahāthera menjalankan peran pembinaan spiritual di lingkungan vihara tersebut. Kegiatan pembinaan umat juga mencakup pendidikan keagamaan melalui Sekolah Minggu Buddha.
Keberadaan vihara memperlihatkan bahwa kehidupan beragama membutuhkan ruang ibadah, pembinaan moral dan pendidikan yang mendukung keberlanjutan komunitas.
Tim juga menelusuri kehidupan umat Hindu melalui Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Tegal dan Pura Mitra Kencana Dewa di Dukuh Jomblang, Desa Dukuhwringin, Kecamatan Slawi.
Pura tersebut berada di tengah lingkungan permukiman yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu, warga sekitar ikut membantu menjaga keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.
Keterlibatan warga ini memperlihatkan bentuk toleransi yang hadir melalui tindakan sehari-hari. Warga membantu tetangganya menjalankan ibadah tanpa harus memiliki keyakinan yang sama.
Praktik seperti ini penting karena kerukunan membutuhkan rasa saling percaya dan kesediaan untuk menghormati hak setiap warga dalam menjalankan agama atau kepercayaannya.

Kerukunan yang Tumbuh dari Aksi Nyata
Sejumlah praktik di Slawi dan wilayah sekitarnya memperlihatkan bahwa kepedulian sosial dapat memperkuat hubungan lintas agama.
Setiap bulan Ramadan, umat Hindu melalui PHDI Kabupaten Tegal dan komunitas Pura Mitra Kencana Dewa secara rutin membagikan ratusan paket takjil kepada masyarakat Muslim. Pengurus Kelenteng Hok Ie Kiong juga melakukan kegiatan serupa serta menyalurkan bantuan sosial kepada warga yang membutuhkan.
Pada kesempatan lain, warga dari berbagai latar belakang agama terlibat dalam kegiatan gotong royong membersihkan tempat ibadah. Kegiatan semacam ini mempertemukan masyarakat dalam pekerjaan bersama yang manfaatnya dapat dirasakan langsung.
Dukungan warga terhadap pelaksanaan ritual keagamaan di lingkungan Dukuh Jomblang juga menjadi contoh penting. Ketika umat Hindu menggelar upacara Piodalan Pura atau Dharmasanti Nyepi, warga sekitar membantu menjaga ketertiban lingkungan.
Pola hubungan tersebut menunjukkan bahwa toleransi dapat berkembang melalui kebiasaan saling membantu. Masyarakat tidak harus menunggu kegiatan seremonial untuk membangun hubungan baik karena interaksi sehari-hari menyediakan banyak kesempatan untuk mempraktikkannya.
Kampung Moderasi Beragama sebagai Penguatan Kerukunan
Praktik kerukunan di tingkat masyarakat juga memperoleh dukungan melalui program kelembagaan. Kampung Jomblang di Desa Dukuhwringin dan Desa Adiwerna telah menjadi bagian dari pengembangan Kampung Moderasi Beragama di Kabupaten Tegal. Desa Adiwerna juga dikenal sebagai percontohan Desa Sadar Kerukunan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Di tingkat kabupaten, pemerintah daerah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berperan dalam membangun komunikasi antarpemuka agama, mencegah konflik serta memperkuat koordinasi lintas komunitas.
Kebijakan formal tersebut menyediakan kerangka untuk menjaga hubungan antarumat beragama. Sementara itu, partisipasi warga memberikan landasan sosial agar kerukunan dapat bertahan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi. Pemerintah dan lembaga keagamaan dapat menyediakan ruang dialog serta mekanisme pencegahan konflik, sedangkan masyarakat menjaga hubungan melalui interaksi, gotong royong dan kepedulian sosial.

Merekonstruksi Model Kerukunan Akar Rumput
Bagi PWGI, penelusuran di Slawi menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan pengalaman komunitas lintas agama sekaligus mengidentifikasi unsur-unsur yang mendukung kerukunan di tingkat akar rumput.
Dari berbagai contoh yang dihimpun, terdapat beberapa unsur yang menonjol. Pertama, keterbukaan ruang perjumpaan yang memungkinkan warga berbeda agama saling mengenal. Kedua, kepedulian sosial yang diwujudkan melalui bantuan kemanusiaan dan kegiatan bersama. Ketiga, penghormatan terhadap pelaksanaan ibadah dan tradisi keagamaan. Keempat, keterlibatan organisasi masyarakat dan lembaga keagamaan dalam membangun komunikasi lintas iman.
Unsur-unsur tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana kerukunan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Namun, setiap praktik tetap perlu dibaca sesuai dengan konteks sosial, pengalaman warga dan kondisi masing-masing komunitas.
Dokumentasi lapangan juga memberi ruang bagi jurnalisme untuk menyampaikan pengalaman toleransi secara konkret. Pemberitaan mengenai kerukunan perlu menghadirkan suara para pelaku, menjelaskan konteks peristiwa dan menunjukkan tindakan nyata yang mendukung kehidupan bersama.
Melalui kegiatan ini, PWGI berupaya memperluas dokumentasi mengenai hubungan lintas agama di Indonesia. Pengalaman Slawi dapat menjadi bahan pembelajaran bagi komunitas lain dalam mengembangkan dialog, kerja sama sosial dan penghormatan terhadap keberagaman.
Di tengah masyarakat yang memiliki beragam agama dan kepercayaan, pengalaman Slawi memperlihatkan pentingnya menjaga hubungan baik melalui tindakan nyata. Kerukunan memperoleh makna ketika warga saling menghormati, membantu sesama dan memberi ruang bagi setiap komunitas untuk menjalankan kehidupan keagamaannya.
Bagi masyarakat Slawi, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan bersama yang terus dibangun melalui perjumpaan dan kerja sama. Bagi PWGI, pengalaman tersebut menjadi catatan jurnalistik yang layak didokumentasikan agar praktik kerukunan di tingkat akar rumput dapat dipelajari dan dikembangkan di berbagai daerah Indonesia.
(TIM PUBLIKASI PWGI/Dh.L._Red.***)
