Galungan: Simbol Kemenangan Dharma dan Refleksi Syukur Umat Hindu Oleh: Dr. Dharma Leksana
Detik-news.com – Jakarta, Suasana khidmat menyelimuti umat Hindu di berbagai penjuru tanah air pada Rabu, 17 Juni 2026. Hari ini menjadi momen yang sangat dinanti, di mana umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan, sebuah perayaan sakral yang melambangkan kemenangan kebaikan (Dharma) atas kejahatan (Adharma).
Di Pura Giri Indra Lokha, Kota Baru, Jambi, hingga Pura Jagatnatha di Denpasar, Bali, umat tampak khusyuk mengikuti persembahyangan. Perayaan yang jatuh setiap 210 hari berdasarkan penanggalan Pawukon ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat bagi manusia untuk senantiasa meniti jalan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Galungan adalah momen sakral untuk merefleksikan diri, menjaga keseimbangan hidup, dan meningkatkan kualitas spiritual agar nilai-nilai kejujuran selalu menang atas sifat buruk dalam diri.”
Kemenangan Dharma dan Kembalinya Leluhur
Galungan dimaknai sebagai waktu ketika roh leluhur yang telah disucikan diyakini turun ke bumi untuk memberikan berkat dan perlindungan kepada keturunannya. Sepanjang jalanan pun tampak semarak dengan berdirinya penjor—bambu melengkung yang dihias dengan janur dan hasil bumi. Penjor bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kemakmuran, keberlimpahan rezeki, serta wujud syukur manusia atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian Menuju Kemenangan
Sebelum mencapai puncak perayaan, umat Hindu menjalani rangkaian tradisi turun-temurun yang sarat akan makna pengendalian diri, di antaranya:
1. Sugihan Jawa & Bali: Tahapan penyucian alam semesta dan diri sendiri.
2. Penyekeban: Simbol pengendalian hawa nafsu.
3. Penyajaan: Waktu menyiapkan sarana upacara dengan penuh dedikasi.
4. Penampahan Galungan: Persiapan akhir menjelang hari suci.
Menuju Kuningan
Setelah merayakan Galungan pada 17 Juni 2026, rangkaian hari suci ini akan ditutup dengan Hari Raya Kuningan pada Sabtu, 27 Juni 2026. Jika Galungan menjadi momen penyambutan, Kuningan dimaknai sebagai penghormatan saat leluhur kembali ke alam spiritual. Warna kuning yang dominan pada hari ini melambangkan kemakmuran dan kedamaian hidup.
Di tengah modernisasi, perayaan Galungan dan Kuningan tetap kokoh menjadi pondasi spiritual masyarakat Hindu. Nilai-nilai seperti menghormati leluhur, mempererat ikatan keluarga, serta menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, tetap terjaga lintas generasi, menjadikannya warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
(Penulis : Dr. Dharma Leksana)
