Dadang Kusmana, 26 Tahun Menjadi Penjaga Sunyi Pengabdian di Fakultas Teknik Unjani
Detik-news.com – Cimahi, 29 Juli 2026, Di tengah hiruk pikuk kehidupan kampus, ada sosok yang jarang berdiri di depan panggung. Namanya tidak tercantum dalam daftar dosen, tidak pula dikenal melalui publikasi ilmiah atau jabatan akademik. Namun selama 26 tahun, kehadirannya menjadi bagian penting dari denyut kehidupan Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).
Ia adalah Dadang Kusmana, pria kelahiran Cimahi, 6 Juli 1968, yang mengabdikan hidupnya sebagai Anggota Urusan Dalam dan Administrasi Umum Fakultas Teknik Unjani dengan pangkat Pengatur Muda Tingkat I Golongan II/B. Di lingkungan kampus, ia lebih dikenal sebagai pelayan kampus, office boy, atau pesuruh. Sebutan yang sederhana, tetapi menyimpan makna pengabdian yang begitu besar.

Sejak pertama kali mulai bekerja pada 3 Januari 2000, Dadang menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Tidak pernah memilih pekerjaan, tidak pernah menghitung berat ringannya tugas. Selama lebih dari seperempat abad, ia hadir untuk memastikan roda pelayanan di kampus tetap berjalan.
Beberapa tahun terakhir, Dadang bertugas di Program Studi Teknik Geomatika Fakultas Teknik Unjani. Di sanalah dedikasinya semakin dirasakan oleh para dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa.
Setiap pagi, sebelum para dosen datang mengajar, Dadang sudah lebih dahulu berada di kampus. Ia membuka ruangan, membersihkan halaman, merapikan kantor dan memastikan lingkungan kerja siap digunakan. Semua dikerjakan tanpa banyak bicara, tanpa berharap pujian dan tanpa pernah mengeluh.

Penghasilannya sebagai pegawai golongan II/B tidak pernah tergolong besar. Namun keterbatasan ekonomi tidak pernah mengurangi semangatnya dalam bekerja. Bersama sang istri, Maesaroh, Dadang membesarkan tiga anak, Ahmad Barokah, Yoga Hadian dan Mayda Ariani, dengan kehidupan yang sederhana tetapi penuh harga diri.
Bagi Dadang, pekerjaan bukan sekadar mencari nafkah. Pekerjaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan jujur.
Kepala Program Studi Teknik Geomatika Fakultas Teknik Unjani, Kolonel Purnawirawan Dr. Ir. Sukanto Hadi, M.T., menjadi salah satu sosok yang menyaksikan langsung ketulusan pengabdian Dadang selama hampir lima tahun terakhir.
“Saya sangat terkesan dengan kepribadian Pak Dadang Kusmana yang jujur, rajin dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Sebelum kami para dosen hadir, beliau selalu sudah datang lebih dahulu untuk membersihkan ruangan dalam maupun luar kantor Program Studi Teknik Geomatika. Beliau melayani kami dengan ikhlas dan tulus tanpa pamrih. Dedikasinya sungguh luar biasa,” ungkap Sukanto Hadi.
Menurutnya, Dadang adalah pribadi yang tetap menjaga integritas meskipun hidup dalam keterbatasan.
“Dalam kesederhanaan kehidupannya sebagai seorang office boy dengan penghasilan yang pas-pasan, beliau tetap menjalankan tanggung jawabnya tanpa mengeluh. Bersama seorang istri dan tiga anak yang harus dinafkahi, beliau tetap jujur dan memiliki akhlak yang luhur. Sosok seperti Pak Dadang layak menjadi contoh bagaimana seseorang tetap menjaga kehormatan melalui kerja keras dan kejujuran.”
Ia juga menilai karakter seperti Dadang semakin sulit ditemukan di tengah budaya yang semakin materialistis.

“Di tengah kehidupan yang serba konsumtif, Pak Dadang menunjukkan bahwa nilai seorang manusia tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, melainkan dari integritas dan kesetiaannya menjalankan amanah.”
Menjelang masa purna tugas yang akan dimulai pada 1 Agustus 2026, Sukanto Hadi sempat mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepada Dadang.
“Pak Dadang Kusmana, apa yang akan kamu kerjakan setelah pensiun?”
Jawaban Dadang datang tanpa keraguan.
“Saya mau pulang kampung, Pak. Mau bertani.”
Tidak ada mimpi menjadi pengusaha besar. Tidak ada keinginan mengejar kemewahan. Hanya sebuah harapan sederhana untuk kembali mengolah tanah dan menjalani hidup dengan tenang.
Jawaban singkat itu justru menyimpan makna yang dalam. Ketika banyak orang mengejar kemegahan dunia, Dadang memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.

Selama 26 tahun, Dadang Kusmana telah membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari jabatan tinggi. Ketulusan dapat tumbuh dari pekerjaan yang sering luput dari perhatian. Kejujuran dapat bertahan meskipun hidup dalam keterbatasan. Tanggung jawab tidak membutuhkan sorotan kamera untuk tetap dijalankan.
Kampus sering dikenang melalui prestasi para dosennya, penelitian para akademisinya atau keberhasilan alumninya. Namun sejarah sebuah institusi juga dibangun oleh orang-orang yang setiap hari bekerja dalam diam, menjaga kebersihan, merawat lingkungan dan memastikan pelayanan berjalan tanpa hambatan.
Dadang Kusmana adalah salah satu penjaga sunyi itu.
Ketika ia melangkah meninggalkan kampus menuju masa pensiun, yang berakhir bukan hanya masa kerja seorang office boy. Yang berpamitan adalah seorang pekerja jujur yang telah mengajarkan bahwa kehormatan hidup dibangun melalui disiplin, ketulusan dan kesetiaan pada amanah.
Selamat memasuki masa purna tugas, Pak Dadang Kusmana.

Jejak pengabdian selama 26 tahun telah menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang pernah bekerja bersama Anda. Dalam dunia yang sering mengukur manusia dari jabatan dan harta, Anda menunjukkan bahwa nilai tertinggi seorang pekerja terletak pada integritas, kerendahan hati dan pengabdian yang dijalankan dengan sepenuh hati. Dedikasi Anda akan selalu menjadi inspirasi bagi keluarga besar Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani.
