Kuliah Tanpa Henti, Welin Kusuma Kumpulkan 14 Gelar S1 dan 3 S2
Detik-news.com – Jakarta, Di tengah ritme kota yang bergerak cepat, ada satu rutinitas yang nyaris tidak pernah putus selama lebih dari dua dekade. Pagi masuk kelas. Siang berpindah kampus. Sore lanjut kuliah lagi. Malam masih duduk mendengarkan dosen menjelaskan materi. Akhir pekan pun tetap terisi jadwal akademik.
Rutinitas itu dijalani oleh Welin Kusuma, pria berusia 40 tahunan yang sejak 1999 tidak pernah benar-benar berhenti menjadi mahasiswa.
Bagi sebagian orang, menyelesaikan satu program sarjana saja sudah terasa berat. Namun bagi Welin, ruang kelas justru menjadi tempat yang membuatnya merasa hidup. Hingga 2026, ia telah mengantongi 14 gelar S1, 3 gelar S2, dan 44 gelar profesi. Total lebih dari 2.000 SKS telah ia tempuh. Angka yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan mahasiswa.
Yang membuat kisahnya menarik bukan hanya jumlah gelarnya. Melainkan konsistensinya menjalani proses panjang itu.
“Saya pernah ngambil kuliah rangkap lima program studi sekaligus,” ujarnya saat dihubungi detikEdu.
Lima program studi itu dijalani dengan pola yang nyaris tanpa jeda. Dua kelas di pagi hari, satu kelas dari sore hingga malam, ditambah jadwal akhir pekan dan program dari Universitas Terbuka yang tidak mengharuskan kehadiran tatap muka secara rutin.
Namun keputusan mengambil banyak program studi tidak dilakukan secara impulsif. Welin menyusun semuanya bertahap. Ia memahami kapasitas dirinya, lalu membangun ritme belajar sedikit demi sedikit.
Tahun 1999 menjadi titik awal. Saat itu ia hanya mengambil satu program studi. Setahun kemudian ia belum menambah jurusan karena masih beradaptasi dengan ritme perkuliahan. Baru pada 2001 ia mulai berani mengambil dua program sekaligus. Salah satunya program kursus setara diploma di LP3I.
Setelah merasa mampu, langkahnya semakin cepat.
“Tahun 2002 saya ngambil tiga program studi sekaligus di tahun yang sama,” katanya.
Sejak saat itu, hampir setiap tahun ia mendaftar program studi baru.
Jadwal hariannya terdengar seperti maraton akademik. Kuliah dimulai pukul tujuh pagi dan berakhir sekitar pukul sepuluh malam. Hari Minggu pun masih terisi kelas. Tetapi bagi Welin, kepadatan itu tidak dianggap sebagai beban.
Ia justru menikmati setiap proses belajar.
Ada satu pengakuan yang menggambarkan seberapa besar komitmennya terhadap pendidikan. Selama puluhan tahun kuliah, ia mengaku hampir tidak pernah absen karena sakit.
“Kalau flu atau batuk saya tetap masuk. Absen karena sakit itu nggak pernah,” ungkapnya.
Bagi banyak mahasiswa, flu sering menjadi alasan untuk beristirahat di rumah. Namun Welin memilih tetap duduk di ruang kelas. Baginya, kehilangan satu sesi kuliah terasa lebih berat dibanding rasa tidak nyaman akibat sakit ringan.
Kedisiplinan itu juga terbentuk karena kehidupannya cukup mandiri. Orang tuanya tinggal di luar pulau. Ia terbiasa mengurus kebutuhan sendiri sejak lama. Karena itu, waktu dan energinya lebih banyak diarahkan untuk pendidikan.
Orang tuanya mengetahui kebiasaan Welin mengambil banyak program studi. Namun mereka tidak terlalu ikut campur. Sebagian karena jarak, sebagian lagi karena Welin memang menjalani semuanya dengan penuh tanggung jawab.
Perjalanan akademiknya juga tidak selalu bergantung pada biaya keluarga. Meski sempat dibiayai orang tua, Welin aktif mencari peluang beasiswa dan berhasil memperoleh banyak bantuan pendidikan selama kuliah.
Kisah Welin menunjukkan bahwa pendidikan bagi sebagian orang bukan sekadar alat mencari pekerjaan atau status sosial. Ada orang yang belajar karena memang mencintai proses memahami ilmu itu sendiri.
Di saat banyak mahasiswa menghitung hari menuju wisuda, Welin justru terus membuka pintu kelas baru. Ia berpindah dari satu disiplin ilmu ke disiplin lain, mengumpulkan pengalaman akademik seperti orang lain mengumpulkan perjalanan hidup.
Dan hingga hari ini, setelah lebih dari dua puluh tahun, ia masih tetap datang ke kampus. (Adil/Red.***)
