
Logos vs. Algoritma
Penulis: Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
“Pada mulanya adalah Firman. Dan Firman kini menjadi algoritma.”
(Dharma Leksana)
BACA BUKUNYA DISINI : https://online.fliphtml5.com/syony/lwqk/
Menjembatani Dua Dunia: Firman dan Data
Buku ini mengangkat isu yang sangat aktual sekaligus mendalam: bagaimana iman Kristen berhadapan dengan realitas digital yang kian didominasi oleh algoritma. Jika Logos dalam Injil Yohanes adalah Firman yang menjadi dasar eksistensi dan sumber kebenaran, maka algoritma di era ini seakan mengambil posisi yang sama — mengatur kehidupan manusia melalui data, klik, dan logika mesin.
Dharma Leksana dengan jernih memaparkan akar historis Logos dari filsafat Yunani (Herakleitos, Stoa) hingga pemaknaan teologis para Bapa Gereja (Justin Martyr, Agustinus). Dari sana ia bergerak ke sejarah algoritma, mulai dari Al-Khawarizmi hingga kecerdasan buatan modern. Dua jalur panjang ini lalu dipertemukan: Logos sebagai pusat iman, algoritma sebagai pusat dunia digital.
Isi dan Gagasan Utama
- Logos sebagai Pribadi, Algoritma sebagai Pola
Logos bukan sekadar konsep abstrak, melainkan Firman yang menjadi manusia dalam Kristus. Sebaliknya, algoritma adalah instruksi matematis, efektif, tetapi impersonal. - Hermeneutika Iman vs. Hermeneutika Digital
Buku ini menunjukkan bagaimana umat beriman kini tidak hanya menafsirkan Kitab Suci, tetapi juga harus menafsirkan realitas algoritmik — filter bubble, ekonomi atensi, dan bias AI. - Krisis Epistemologis dan Etis
Melalui contoh kasus Cambridge Analytica, bias AI dalam rekrutmen kerja, hingga dominasi platform digital, penulis menyoroti bahwa algoritma bukanlah netral: ia memengaruhi kebenaran, keadilan, bahkan demokrasi. - Teologi Algoritma sebagai Kerangka Baru
Dharma mengusulkan Teologi Algoritma — refleksi iman yang menempatkan Logos sebagai koreksi terhadap algoritma. Teologi ini bukan anti-teknologi, melainkan ajakan untuk menundukkan teknologi pada kasih, keadilan, dan belas kasih Kristus. - Spiritualitas Digital
Melalui narasi populer — seorang remaja yang belajar puasa digital, renungan imajiner tentang “Yesus sebagai programmer,” hingga bayangan masa depan “AI Pastor” tahun 2050 — penulis mengajak pembaca merenungkan disiplin rohani di era digital.
Gaya dan Kekuatan Buku
Buku ini ditulis dengan gaya ilmiah populer: memadukan analisis akademis dengan ilustrasi naratif yang mudah dipahami. Kekuatannya ada pada:
- Interdisipliner: menggabungkan filsafat, teologi, sosiologi, dan ilmu komputer.
- Profetik: berani mengkritik bahaya “mammon digital” sekaligus menawarkan jalan etis.
- Praktis: menyajikan konsep formasi digital, sabat digital, dan literasi algoritma sebagai langkah konkret.
Kelebihan Buku
- Menawarkan kerangka teologi baru yang sangat relevan di era big data.
- Menjembatani dunia iman dan dunia teknologi secara seimbang.
- Memberi bahasa segar untuk diskusi iman di ruang digital, tanpa terjebak jargon akademis yang kaku.
Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?
- Teolog & akademisi yang ingin menggali teologi kontemporer.
- Pemimpin gereja yang berhadapan dengan jemaat generasi digital.
- Profesional teknologi yang bergulat dengan etika AI dan big data.
- Pembaca umum yang ingin memahami tantangan iman di era algoritma.
Penutup
Logos vs. Algoritma adalah sebuah bacaan penting sekaligus provokatif. Buku ini tidak hanya menjelaskan, tetapi juga mengajak: apakah kita rela diperintah oleh algoritma, ataukah kita kembali menempatkan Logos sebagai pusat hidup?
Di tengah dunia yang kian diatur oleh kode, suara penulis menggema sebagai seruan: Algoritma mungkin menguasai data, tetapi hanya Logos yang dapat memerdekakan manusia.