PADALARANG- Detik-News.com Noda hitam kian pekat menodai institusi Polri! Keluhan warga membengkak! Pos Gastur Padalarang diduga berubah menjadi sarang pemerasan berkedok penertiban! Banyak pengendara motor dihentikan secara sengaja, bukan demi ketertiban umum, melainkan demi merogoh kocek warga dengan alasan yang dibuat-buat!
Salah satu korban yang berani bersuara adalah Acep. Saat ditemui Team awak media yang kebetulan melintas pulang dari Stasiun Padalarang, Acep tampak gemetar dan berkaca-kaca menceritakan luka hatinya. Saat itu ia sedang terburu-buru hendak membeli obat untuk ibunya yang terbaring sakit parah. Namun baru saja melintas di depan Pos Gastur Padalarang, ia langsung dihadang dan dihentikan secara kasar oleh oknum polisi berinisial J berpangkat Bripka, dengan alasan yang terdengar sekadar dalih: tidak memiliki kaca spion.
Tanpa pemeriksaan wajar, tanpa prosedur resmi, oknum tersebut diduga langsung menodongkan permintaan uang tebusan sebesar Rp300.000! Acep pun bercerita dengan suara bergetar penuh kepahitan: “Saya tidak punya uang sebanyak itu! Kalau Rp150.000 baru bisa dipenuhi, itupun harus ambil dulu ke rumah. Yang saya bawa saat itu hanya Rp100.000 — dan itupun khusus untuk beli obat ibu saya yang sedang sakit! Bagaimana kalau ibu saya kenapa-napa?”
Lebih mencengangkan lagi! Uang dipaksa diserahkan, TIDAK ADA SURAT TILANG SAMA SEKALI! Oknum tersebut hanya berkilah: “Titip sidang.” Sebuah alasan yang sangat mencurigakan, diragukan keabsahannya, dan jelas-jelas dijadikan kedok untuk meloloskan diri dari prosedur resmi — sebenarnya agar uang itu masuk ke kantong pribadi tanpa jejak!
Ini bukan kasus pertama! Banyak warga lain juga mengaku mengalami hal yang sama namun takut bersuara. Warga berteriak: Jangan biarkan oknum busuk ini melukai hati rakyat! Uang beli obat orang sakit saja berani diperas! Di mana hati nuraninya? Di mana pengawasan pimpinannya? Usut tuntas, beri sanksi seberat-beratnya! Jangan biarkan seragam kehormatan ternoda oleh tangan-tangan pengeksploitasi rakyat! Masyarakat menanti keadilan, bukan sekadar pembelaan! (Tim)
