Dirut BPJS Kesehatan Jadi Keynote Speaker Workshop Nasional UNJANI tentang Transformasi Sistem Kesehatan dan Kebijakan Rumah Sakit di Era JKN
Bandung, 18 Juli 2026, Transformasi sistem kesehatan Indonesia tidak lagi menjadi pilihan, tetapi telah menjadi kebutuhan yang mendesak. Perubahan pola pembiayaan, digitalisasi pelayanan, serta tuntutan transparansi dalam tata kelola rumah sakit menempatkan seluruh pemangku kepentingan pada satu tantangan besar, yaitu menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas, efisien, dan berkelanjutan.
Semangat itulah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Workshop Kesehatan dan Rumah Sakit 2026 yang digelar Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Sabtu (18/7/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.
Mengangkat tema “Transformasi Akuntabilitas Eksekutif Rumah Sakit dalam Penguatan Tata Kelola Pembiayaan BPJS Kesehatan yang Transparan, Berintegritas, dan Berkelanjutan”, kegiatan ini menghadirkan para pemimpin dan pakar nasional yang selama ini berperan penting dalam pengembangan sistem kesehatan Indonesia.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Mayjen TNI (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, M.M.R.S., tampil sebagai keynote speaker. Turut menjadi narasumber adalah Ketua Pengurus Pusat Ikatan Ahli Manajemen Administrasi Rumah Sakit Indonesia (IAMARSI), dr. Hariyadi Wibowo, SH., MARS., serta Konsultan Manajemen Kesehatan sekaligus Ketua IAMARSI Jawa Barat, Dr. dr. Dicky Yulius Pangkey, M.H., MARS., FISQua.
Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan UNJANI, Dr. Arina Novilla, S.Pd., M.Si., sedangkan jalannya diskusi dipandu oleh Ketua Prodi Magister Kesmas Fitkes Unjani Dr. Ayu Laili Rahmiyati, SKM., MM.
Antusiasme Tinggi dari Seluruh Indonesia
Workshop nasional ini mendapat sambutan yang sangat positif. Ketua penyelenggara melaporkan bahwa jumlah peserta yang mendaftar mencapai lebih dari +/- 300 orang di zoom dan live streaming youtube
Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari direktur rumah sakit beserta jajarannya, pimpinan puskesmas, anggota IAMARSI, tenaga kesehatan, dosen, mahasiswa Universitas Jenderal Achmad Yani, hingga mahasiswa dan praktisi kesehatan dari berbagai perguruan tinggi dan institusi kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.
Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa isu tata kelola pembiayaan kesehatan dan transformasi rumah sakit menjadi perhatian bersama, terutama di tengah meningkatnya tuntutan terhadap kualitas pelayanan publik.

Menjawab Tantangan Sistem Kesehatan Modern
Dalam paparannya, Direktur Utama BPJS Kesehatan menegaskan bahwa rumah sakit saat ini harus mampu beradaptasi dengan perubahan paradigma pelayanan kesehatan.
Menurutnya, era Jaminan Kesehatan Nasional menuntut rumah sakit meninggalkan pola pelayanan yang berorientasi pada volume tindakan menuju pelayanan berbasis nilai atau value-based healthcare.
Paradigma baru tersebut menempatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, efisiensi pembiayaan, serta hasil klinis sebagai indikator utama keberhasilan rumah sakit.
Beliau juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola pembiayaan melalui sistem audit internal yang berkelanjutan, pengendalian pemborosan, peningkatan kualitas data, serta optimalisasi digitalisasi pelayanan kesehatan.
Tidak kalah penting, rumah sakit perlu memperkuat sistem informasi, memastikan ketersediaan obat, meningkatkan kepastian jadwal pelayanan dokter, serta meminimalkan klaim yang ditolak agar pelayanan kepada peserta JKN semakin berkualitas.

Kolaborasi Pentahelix Menjadi Kunci
Salah satu pesan utama dalam workshop ini adalah pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatan Pentahelix.
Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, media massa, serta masyarakat perlu bergerak bersama dalam membangun sistem kesehatan nasional yang lebih kuat.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk mendukung Universal Health Coverage (UHC) sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan kesehatan nasional.
Dalam sesi diskusi, para narasumber juga membahas berbagai praktik terbaik dari sejumlah negara yang telah berhasil menerapkan sistem pembiayaan kesehatan berbasis nilai, termasuk penguatan strategic purchasing, bundled payment, serta optimalisasi pengelolaan sumber daya rumah sakit.

Menyiapkan SDM Kesehatan Masa Depan
Selain membahas kebijakan nasional, workshop juga memberikan pembekalan praktis mengenai transformasi sistem kesehatan Indonesia, tata kelola rumah sakit modern, digitalisasi pelayanan kesehatan, inovasi manajemen rumah sakit, hingga peluang karier di bidang administrasi kesehatan.
Materi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa, tenaga kesehatan, akademisi, dan praktisi agar siap menghadapi dinamika pelayanan kesehatan yang semakin kompleks.
Para peserta juga memperoleh kesempatan berdialog langsung dengan para pengambil kebijakan nasional sehingga memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan serta arah pengembangan sistem kesehatan Indonesia.
Membangun Tata Kelola yang Berintegritas
Ketua penyelenggara Workshop yang juga Ketua Prodi Magister Kesmas Unjani Dr. Ayu Laili Rahmiyati, SKM., MM., menyampaikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan, IAMARSI, seluruh narasumber, sivitas akademika UNJANI, panitia, serta peserta yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan workshop.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum akademik semata, melainkan menjadi awal lahirnya berbagai kolaborasi strategis antara perguruan tinggi, rumah sakit, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang semakin transparan, akuntabel, berintegritas, dan berkelanjutan.
Workshop Kesehatan dan Rumah Sakit 2026 menjadi bukti bahwa transformasi sistem kesehatan memerlukan kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang baik, serta kolaborasi lintas sektor. Di tengah berbagai tantangan pembiayaan dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat, investasi pada kualitas sumber daya manusia dan penguatan tata kelola menjadi fondasi penting menuju pelayanan kesehatan Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing.
(Dh.El./Red.***)
