MOJOKERTO , JAWA TIMUR – Keluarga besar Paguyuban Seni Budaya Paseban Sekar Bawono menyelenggarakan acara Kirab Budaya sekaligus peringatan Haul ke-469 Raden Sumayu atau Pangeran Ambulu, yang merupakan cucu dari Sunan Giri. Kegiatan ini dilaksanakan di lokasi Sendang Jolotundo, Dusun Jolotundo, Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, pada hari Minggu Legi, 28 Juni 2026.
Acara ini menjadi wadah pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan penggiat seni. Hadir antara lain Mbah Yas, Ketua Umum DPP Ikatan Guru Spiritual Nusantara (IGSN) sekaligus Pimpinan Padepokan Klampis Ireng Kabupaten Sidoarjo beserta jajarannya. Turut hadir juga Ki Purwo, Pimpinan Padepokan Macan Jenggolo Kabupaten Sidoarjo, perwakilan Keluarga Besar Lesbumi PC NU Kabupaten Mojokerto, tokoh masyarakat, serta para penggiat dan pecinta Seni Budaya Nusantara.
Dalam sambutannya, Gus Abdu Rasyid selaku Ketua Paguyuban Seni Budaya Paseban Sekar Bawono menjelaskan tujuan utama diselenggarakan acara ini.
“Acara kirab budaya dan peringatan haul ini kami laksanakan sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah serta nilai-nilai luhur warisan para wali dan tokoh pendahulu. Selain itu, kami ingin menjaga semangat kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan antar penggiat seni budaya di seluruh wilayah Nusantara,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan semacam ini sangat penting untuk terus dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal dan memahami akar budaya serta sejarah peradaban di tanah air.
Sementara itu, Mbah Yas, Ketua Umum DPP IGSN dan Pimpinan Padepokan Klampis Ireng Sidoarjo menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Paguyuban Paseban Sekar Bawono.
“Keberadaan acara seperti ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya tetap hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat. Beliau Beliau yang diperingati haulnya adalah tokoh yang memiliki jasa besar dalam menyebarkan nilai kebaikan dan keagamaan. Semoga kegiatan ini dapat menjadi sarana penguat iman, persaudaraan, dan cinta tanah air bagi seluruh peserta,” tutur Mbah Yas.
Lebih lanjut, Ki Purwo selaku Pimpinan Padepokan Macan Jenggolo Sidoarjo juga menyampaikan harapannya terkait keberlanjutan tradisi ini.
“Kami berharap acara tahunan seperti ini terus berjalan dan semakin berkembang. Semoga sinergi antar padepokan, organisasi, serta penggiat seni budaya dapat terus terjaga demi menjaga kelestarian seni dan budaya Nusantara agar tidak tergerus zaman,” kata Ki Purwo.
Suasana acara terasa khidmat dan penuh keakraban, di mana rangkaian kirab budaya menjadi momen bagi peserta untuk bersama-sama merenungi sejarah dan memperkuat identitas budaya bangsa.
Redaksi/Editor: Gus Rochman
