Sell Singapore dan Bangkitnya Nasionalisme Ekonomi Indonesia Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si
Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si
Sub-judul : Kunci Dapur Ada di Tangan Kita: Memahami Kedaulatan Ekonomi Indonesia di Tengah Dinamika Singapura
Beberapa waktu terakhir media sosial Indonesia ramai dengan slogan “Sell Singapore”. Narasi ini muncul sebagai respons terhadap berbagai sentimen ekonomi yang dianggap merugikan Indonesia. Di balik perang tagar tersebut, sebenarnya terdapat isu yang jauh lebih penting, yaitu soal kedaulatan ekonomi Indonesia.
Pembahasan ini bukan tentang permusuhan antarnegara. Indonesia dan Singapura merupakan mitra strategis yang telah bekerja sama selama puluhan tahun. Namun, perdebatan yang muncul membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami bagaimana kekayaan alam, devisa, dan kebijakan ekonomi dapat menentukan posisi sebuah negara dalam perekonomian global.
Memahami Peran Singapura sebagai Negara Entrepot
Banyak orang menyebut Singapura sebagai “negara makelar”. Istilah ini sering menimbulkan kesalahpahaman. Dalam ekonomi modern, istilah yang lebih tepat adalah negara entrepot atau pusat perdagangan perantara.
Untuk memahaminya, bayangkan seorang petani menjual mangga kepada pedagang dengan harga Rp10.000 per kilogram. Pedagang kemudian membersihkan, mengemas, memberi label menarik, lalu menjualnya kembali seharga Rp25.000 per kilogram kepada konsumen. Petani tetap memperoleh keuntungan, tetapi keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak yang mengelola distribusi dan pemasaran.
Dalam skala internasional, Singapura menjalankan fungsi serupa. Negara ini tidak memiliki sumber daya alam yang besar. Namun, Singapura memiliki pelabuhan kelas dunia, sistem keuangan yang kuat, jaringan perdagangan global, serta berbagai perjanjian perdagangan bebas dengan banyak negara.
Akibatnya, banyak komoditas dari Indonesia melewati Singapura sebelum sampai ke pasar dunia. Nilai tambah yang tercipta dalam proses perdagangan, pembiayaan, logistik, dan pengolahan tersebut menjadi sumber kekuatan ekonomi Singapura.
Mengapa Indonesia Ingin Naik Kelas?
Selama bertahun-tahun Indonesia dikenal sebagai pemasok bahan mentah. Batu bara, minyak sawit, gas alam, nikel, dan berbagai komoditas lainnya diekspor dalam bentuk yang belum sepenuhnya diolah.
Model seperti ini memang menghasilkan pendapatan. Namun nilai tambah terbesar sering kali dinikmati oleh negara yang mengolah bahan mentah tersebut menjadi produk bernilai tinggi.
Karena itu pemerintah Indonesia mendorong kebijakan hilirisasi.
Hilirisasi berarti mengolah sumber daya alam di dalam negeri sebelum diekspor. Tujuannya sederhana. Indonesia tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga menjual produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Contoh paling nyata adalah nikel. Sebelum kebijakan hilirisasi diterapkan, Indonesia banyak mengekspor bijih nikel mentah. Setelah larangan ekspor bijih mentah diberlakukan, investasi smelter meningkat dan produk turunannya mulai diproduksi di dalam negeri.
Nilai tambah yang dihasilkan meningkat berkali-kali lipat dibandingkan ketika nikel dijual dalam bentuk mentah. Artinya, lebih banyak lapangan kerja, investasi, penerimaan negara, dan pertumbuhan industri yang tercipta di Indonesia.
Mengapa Devisa Harus Pulang?
Selain hilirisasi, pemerintah juga memperkuat kebijakan DHE atau Devisa Hasil Ekspor.
Secara sederhana, DHE adalah uang yang diperoleh eksportir dari hasil penjualan barang ke luar negeri.
Selama ini sebagian besar DHE disimpan di luar negeri, termasuk di pusat-pusat keuangan regional seperti Singapura. Akibatnya, uang hasil ekspor Indonesia tidak sepenuhnya berputar dalam sistem keuangan nasional.
Bayangkan sebuah keluarga yang memiliki toko besar. Setiap hari toko memperoleh keuntungan jutaan rupiah. Namun seluruh hasil penjualan disimpan di rekening bank milik tetangga. Akibatnya, keluarga tersebut tetap harus meminjam uang ketika membutuhkan modal usaha.
Kira-kira itulah logika yang ingin diperbaiki pemerintah melalui kebijakan DHE.
Dengan mewajibkan devisa hasil ekspor ditempatkan dalam sistem keuangan nasional untuk jangka waktu tertentu, pemerintah berharap likuiditas perbankan meningkat, nilai tukar rupiah lebih stabil, dan pembiayaan pembangunan menjadi lebih kuat.
Apa Itu Transfer Pricing?
Dalam diskusi ekonomi sering muncul istilah transfer pricing. Istilah ini terdengar rumit, padahal konsep dasarnya cukup sederhana.
Bayangkan seseorang memiliki dua toko. Toko pertama berada di kota A dan toko kedua berada di kota B.
Pemilik menjual barang dari toko pertama ke toko kedua dengan harga yang sengaja dibuat sangat murah. Akibatnya keuntungan di toko pertama terlihat kecil, sedangkan keuntungan di toko kedua terlihat besar.
Dalam dunia korporasi internasional, praktik serupa dapat dilakukan melalui perusahaan-perusahaan yang berada di berbagai negara. Jika tidak diawasi dengan baik, keuntungan yang seharusnya tercatat di Indonesia bisa berpindah ke negara lain melalui berbagai mekanisme administrasi dan keuangan.
Karena itulah pemerintah berupaya memperkuat pengawasan terhadap praktik under-invoicing, transfer pricing, dan berbagai skema pengalihan keuntungan lainnya.
Hubungan Indonesia dan Singapura Tidak Sesederhana Narasi Media Sosial
Meskipun banyak kritik muncul terhadap peran Singapura, penting untuk melihat persoalan ini secara seimbang.
Singapura bukan penyebab utama berbagai tantangan ekonomi Indonesia. Singapura hanya memanfaatkan peluang yang tersedia melalui keunggulan institusi, regulasi, logistik, dan sistem keuangan yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Dari sisi lain, Indonesia juga memperoleh manfaat dari hubungan ekonomi tersebut. Singapura merupakan salah satu sumber investasi asing terbesar di Indonesia. Banyak proyek industri, kawasan ekonomi, dan pembangunan infrastruktur memperoleh dukungan modal yang berasal dari sana.
Karena itu, hubungan kedua negara sebaiknya dipahami sebagai hubungan kompetitif sekaligus saling membutuhkan.
Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, dan akses pasar global.
Singapura membutuhkan pasokan energi, pangan, sumber daya alam, serta pasar yang besar.
Yang berubah saat ini adalah posisi tawar Indonesia yang semakin kuat.
Nasionalisme Ekonomi yang Rasional
Nasionalisme ekonomi tidak berarti memusuhi negara lain. Nasionalisme ekonomi berarti memastikan bahwa kekayaan nasional memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.
Dalam konteks ini, hilirisasi, penguatan DHE, pengawasan transfer pricing, serta pembangunan industri nasional merupakan langkah yang dapat memperkuat kedaulatan ekonomi.
Namun keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada regulasi. Indonesia juga membutuhkan tata kelola yang baik, kepastian hukum, pengawasan yang efektif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan iklim investasi yang sehat.
Tanpa itu semua, kebijakan yang baik hanya akan menjadi slogan.
Perdebatan mengenai “Sell Singapore” pada akhirnya mengingatkan kita pada satu hal penting. Persaingan ekonomi modern bukan lagi semata-mata soal siapa yang memiliki sumber daya alam paling banyak. Persaingan ekonomi adalah soal siapa yang mampu menciptakan nilai tambah terbesar dari sumber daya tersebut.
Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tantangan terbesar bangsa ini bukan menemukan sumber daya baru, melainkan mengelola sumber daya yang sudah dimiliki secara lebih cerdas.
Kunci dapur memang selalu berada di tangan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu menggunakannya untuk memasak kesejahteraan bagi bangsa sendiri.
Daftar Pustaka
APERC. (2024). APERC Gas Report 2024. Asia Pacific Energy Research Centre. Diakses dari https://aperc.or.jp/file/2025/5/27/APERC_Gas_Report_2024_Publication.pdf
Ashurst. (2025). Recent Developments in Indonesia Natural Resources Export Proceeds Retention Regime. Diakses dari https://www.ashurst.com/en/insights/recent-developments-in-indonesia-natural-resources-export-proceeds-retention-regime/
Asia News Network. (2025). Indonesian Government to Tighten Export-Receipt Rules, Curb Lingering Loopholes. Diakses dari https://asianews.network/indonesian-government-to-tighten-export-receipt-rules-curb-lingering-loopholes/
Bank Indonesia. (2025). Peraturan Bank Indonesia Nomor 3 Tahun 2025 tentang Devisa Hasil Ekspor. Jakarta: Bank Indonesia. Diakses dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/peraturan/Pages/PBI_032025.aspx
Breakbulk Magazine. (2025). Indonesia’s Nickel Gamble Pays Off. Diakses dari https://breakbulk.com/articles/indonesias-nickel-gamble-pays-off
CETEX. (2026). Indonesia Ban on Exports of Raw Nickel. Policy Insight Series. Diakses dari https://cetex.org/wp-content/uploads/2026/03/Indonesia-Ban-on-Exports-of-Raw-Nickel.pdf
Critical Minerals Indonesia. (2025). Indonesia’s DHE Policy: Key Points You Need to Know and Understand. Diakses dari https://criticalminerals.id/indonesias-dhe-policy-key-points-you-need-to-know-and-understand/
Energy Market Authority Singapore. (2024). Singapore Energy Statistics 2024. Singapore: EMA. Diakses dari https://www.ema.gov.sg/resources/singapore-energy-statistics/chapter1
IEA. (2025). Prohibition of the Export of Nickel Ore. Paris: International Energy Agency. Diakses dari https://www.iea.org/policies/16084-prohibition-of-the-export-of-nickel-ore
Indonesia.go.id. (2025). Memarkir Devisa Hasil Ekspor SDA untuk Memperkokoh Daya Tahan Ekonomi. Diakses dari https://indonesia.go.id/kategori/editorial/9030/memarkir-devisa-hasil-ekspor-sda-untuk-memperkokoh-daya-tahan-ekonomi
Katadata Insight Center. (2022). Indonesia Introduces New Instrument to Lure Exporters’ Earnings. Diakses dari https://dinsights.katadata.co.id/read/2022/12/27/indonesia-introduces-new-instrument-to-lure-exporters-earnings
Katadata Insight Center. (2023). Hundreds of Exporters Penalized for Saving Forex Overseas. Diakses dari https://dinsights.katadata.co.id/read/2023/01/04/hundreds-of-exporters-penalized-for-saving-forex-overseas
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2025). Gelar Sosialisasi Pengaturan Devisa Hasil Ekspor Terbaru. Diakses dari https://ekon.go.id/publikasi/detail/6213/gelar-sosialisasi-pengaturan-devisa-hasil-ekspor-terbaru-pemerintah-tekankan-mekanisme-pelaksanaan-dan-pengawasan
Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2025). Keterangan Pers tentang Kewajiban Menyimpan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di Dalam Negeri. Diakses dari https://www.setneg.go.id/baca/index/keterangan_pers_tentang_kewajiban_menyimpan_devisa_hasil_ekspor_sumber_daya_alam_dhe_sda_di_dalam_negeri
Kompas.id. (2025). Apa Dampak Kebijakan Devisa Hasil Ekspor terhadap Ekonomi dan Pelaku Usaha? Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/apa-dampak-kebijakan-devisa-hasil-ekspor-terhadap-ekonomi-dan-pelaku-usaha
National Bureau of Asian Research. (2025). Indonesia’s Nickel Export Ban: Impacts on Supply Chains and the Energy Transition. Diakses dari https://www.nbr.org/publication/indonesias-nickel-export-ban-impacts-on-supply-chains-and-the-energy-transition/
Opini Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Ekspor Melesat, Devisa Erat. Diakses dari https://opini.kemenkeu.go.id/article/read/ekspor-melesat-devisa-erat
Pajakku. (2025). Kewajiban Perpajakan atas Devisa Hasil Ekspor di Indonesia. Diakses dari https://pajakku.com/artikel/kewajiban-perpajakan-atas-devisa-hasil-ekspor-dhe-di-indonesia
Phenomenal World. (2025). Downstream Industries and Indonesia’s Nickel Strategy. Diakses dari https://www.phenomenalworld.org/analysis/downstream-industries/
Seala AI. (2025). Singapore LNG Statistics and Indonesia-Singapore Gas Dynamics. Diakses dari https://www.seala.ai/lngstatistics/singapore
Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (2025). Presiden Prabowo Umumkan Kebijakan Kewajiban Penyimpanan DHE SDA di Dalam Negeri. Diakses dari https://setkab.go.id/presiden-prabowo-umumkan-kebijakan-kewajiban-penyimpanan-dhe-sda-di-dalam-negeri/
Statista. (2025). Natural Gas Industry in Singapore. Diakses dari https://www.statista.com/topics/10628/natural-gas-industry-in-singapore/
Tempo English. (2025). Why Export Proceeds Rules Don’t Automatically Boost Foreign Exchange Reserves. Diakses dari https://en.tempo.co/read/2105771/why-export-proceeds-rules-do-not-automatically-boost-foreign-exchange-reserves
Trading Economics. (2025a). Indonesia Exports of Mineral Fuels, Oils and Distillation Products to Singapore. Diakses dari https://tradingeconomics.com/indonesia/exports/singapore/mineral-fuels-oils-distillation-products
Trading Economics. (2025b). Indonesia Exports to Singapore: Non-Oil and Gas. Diakses dari https://tradingeconomics.com/indonesia/exports-to-singapore-non-oil-gas
Trading Economics. (2025c). Singapore Exports to Indonesia. Diakses dari https://tradingeconomics.com/singapore/exports/indonesia
United States International Trade Commission. (2025). Nickel and Indonesia (Part 1). Washington, DC: USITC. Diakses dari https://www.usitc.gov/publications/332/executive_briefings/ebot_nickel_and_indonesia_part_1.pdf
Wood Mackenzie. (2025). The GasCo Agenda: How Centralisation is Set to Transform Singapore’s Gas Procurement. Diakses dari https://www.woodmac.com/news/opinion/the-gasco-agenda-how-centralisation-is-set-to-transform-singapores-gas-procurement/
Profil Penulis:

Dr. Dharma Leksana, S.Th., M.Th., M.Si., adalah teolog, wartawan senior, dan pendiri Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI). Ia menempuh studi teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, melanjutkan Magister Ilmu Sosial dengan fokus media dan masyarakat, serta meraih Magister Theologi melalui kajian Teologi Digital. Gelar doktoralnya diperoleh di STT Dian Harapan dengan predikat Cum Laude lewat disertasi Algorithmic Theology: A Conceptual Map of Faith in the Digital Age.
Sebagai penulis produktif, ia telah menerbitkan ratusan buku akademik, populer, dan sastra, di antaranya Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital dan Membangun Kerajaan Allah di Era Digital. Kiprahnya menjembatani dunia teologi, media digital, dan transformasi
