
Gambar Ilustrasi
“Jika demokrasi kehilangan bahasa, rakyat akan menulisnya kembali dengan novel dan puisi.” (Mas_Dharma EL)
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya oleh rahmat-Nya novel ini dapat terselesaikan. Gelombang Rakyat lahir sebagai refleksi obyektif terhadap dinamika sosial-politik Indonesia, khususnya peristiwa yang terjadi menjelang dan setelah peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Agustus 2025.
Novel ini mencoba memotret ironi: saat bangsa merayakan kemerdekaan, justru muncul bentuk-bentuk “penjajahan modern” yang menyelimuti ruang-ruang digital, birokrasi, dan kehidupan masyarakat. Dengan latar digital dan politik kontemporer, cerita ini menyoroti perjuangan rakyat, peran media baru, dan kekuatan informasi dalam membentuk opini serta kebijakan.
Melalui tokoh-tokoh seperti Arka dan Nadia, novel ini mengajak pembaca merenungkan makna merdeka: bukan sekadar kemerdekaan fisik, tetapi kebebasan berpikir, berpendapat, dan berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan berbangsa. Novel ini juga menjadi catatan historis yang mencoba menyelami dilema bangsa ketika teknologi dan kekuasaan bertemu, serta bagaimana rakyat membangun suara kolektifnya untuk masa depan.
Saya berharap pembaca dapat menelusuri setiap gelombang cerita dengan kritis, sekaligus menemukan inspirasi untuk menghargai hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya.
Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Bekasi, 28 Agustus 2025
Buku Buku saya yang lainnya dpat di lihat di tautan berikut :
