
Bolehkah Gereja Berpolitik? Perspektif Teologis dan Praktis
Penulis: Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Penerbit: [PWGI.ORG] | Tahun: 2025 | Tebal: ±50 hlm
BACA BUKUNYA KLIK DISINI >>> https://online.fliphtml5.com/syony/rgvi/
Pendahuluan: Politik dan Gereja, Dua Dunia yang Bersentuhan
Dalam masyarakat yang kerap terpecah oleh politik identitas, pertanyaan “bolehkah gereja berpolitik?” menjadi semakin relevan dan menantang. Buku Bolehkah Gereja Berpolitik? Perspektif Teologis dan Praktis karya Dharma Leksana, S.Th., M.Si. hadir sebagai jawaban reflektif, analitis, dan sekaligus aplikatif atas dilema keterlibatan gereja dalam ruang publik yang sarat kekuasaan.
Buku ini tidak sekadar menegaskan posisi teologis, tetapi menelaah secara kritis hubungan gereja dan politik dari berbagai perspektif: teologi, etika, sejarah, hingga konteks sosial Indonesia kontemporer.
Isi Buku: Bab demi Bab yang Mencerahkan
Bab 1: Pendahuluan
Bab ini membuka diskusi dengan menempatkan pertanyaan sentral secara jujur dan gamblang: apakah gereja sebaiknya menjauh dari politik atau justru tampil sebagai suara moral dan profetik? Penulis menegaskan bahwa jawaban tidak bisa simplistik—perlu pemahaman mendalam tentang apa itu politik dan apa itu gereja.
Bab 2: Memahami Politik: Antara Ideal, Kekuasaan, dan Moralitas
Dengan gaya ilmiah populer, penulis memaparkan tiga wajah politik:
- Politik Ideal: seni mencapai bonum commune (kebaikan bersama),
- Politik Kekuasaan: arena perebutan dominasi, dan
- Politik Moral: sebagai etika publik.
Diskusi ini menjadi fondasi penting sebelum menilai posisi gereja.
Bab 3: Gereja dan Politik: Telaah Teologis dan Historis
Bab ini mengupas pandangan para tokoh gereja seperti Agustinus, Luther, Calvin, Bonhoeffer, hingga teolog pembebasan seperti Gustavo Gutierrez. Penulis juga menyajikan studi sejarah dari gereja mula-mula hingga era modern, yang memperlihatkan dinamika antara gereja dan kekuasaan.
Bab 4: Pro dan Kontra Keterlibatan Gereja dalam Politik Praktis
Penulis menampilkan dua kutub argumen:
- Pro: Gereja sebagai garam dan terang dunia, menjaga moral publik, dan menyuarakan suara kenabian.
- Kontra: Risiko politisasi gereja, hilangnya netralitas, dan godaan kompromi nilai.
Bab ini objektif dan tidak menghakimi, namun tetap kritis dan bernas.
Bab 5: Politik sebagai Arena Kesaksian Injil dan Pelayanan Profetik
Ini mungkin bab paling kuat secara teologis. Penulis menekankan bahwa keterlibatan gereja dalam politik harus bersifat profetik, bukan partisan. Penulis menegaskan bahwa gereja tidak dipanggil untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menggarami dan menerangi kekuasaan agar tetap manusiawi dan adil.
Bab 6: Batas dan Etika Keterlibatan Gereja dalam Politik
Gereja tidak boleh terjun tanpa pedoman. Di sini penulis menawarkan prinsip kehati-hatian, jarak kritis, dan pengutamaan pelayanan daripada dominasi. Etika Kristen menjadi bingkai agar gereja tetap setia pada Injil di tengah godaan pragmatisme politik.
Bab 7: Etika Politik Kristen: Menavigasi Kuasa dengan Iman
Bab ini memperkaya refleksi dengan pendekatan etika publik, seperti cinta kasih, keadilan, dan integritas. Penulis mengutip pandangan Stanley Hauerwas dan Reinhold Niebuhr untuk menyeimbangkan iman dan realitas politik.
Bab 8: Menuju Gereja yang Profetik dan Transformatif
Penulis menekankan perlunya gereja hadir sebagai suara bagi yang tertindas, bukan justru bersekongkol dengan penguasa. Bab ini juga menyoroti kontribusi komunitas seperti Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI) yang menjadi contoh konkret jurnalisme profetik dalam konteks Indonesia.
Bab 9: Kesimpulan dan Rekomendasi Teologis-Praktis
Buku ditutup dengan kesimpulan bernas: gereja boleh berpolitik, asal tidak menjadi alat politik. Penulis menyarankan model engagement yang sadar batas dan tetap profetik.
Keunggulan Buku
✅ Multidisipliner dan Kritis
Menggabungkan teologi, etika, filsafat politik, dan konteks lokal secara utuh.
✅ Bahasa Ilmiah Populer
Memungkinkan pembaca non-teolog sekalipun memahami isu kompleks ini dengan mudah tanpa kehilangan kedalaman argumentasi.
✅ Kontekstual
Berani membedah realitas politik Indonesia dan posisi gereja-gereja di dalamnya.
✅ Membangun Jalan Tengah
Tidak menyederhanakan dilema menjadi “hitam-putih”, tetapi menyodorkan keseimbangan teologis-praktis yang bijaksana.
Kutipan Pilihan untuk Promosi
“Gereja tidak dipanggil untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menyucikan kekuasaan dengan terang Injil.”
— Dharma Leksana – Ketua Umum PWGI
“Politik bukan hanya soal kursi kekuasaan, tetapi arena pelayanan. Di situlah gereja dipanggil untuk bersuara.”
— Dharma Leksana – Ketua Umum PWGI
Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?
- Para pemimpin gereja dan sinode yang bergumul dengan isu politik praktis.
- Mahasiswa teologi, sosiologi agama, dan ilmu politik.
- Aktor-aktor gerakan sosial dan organisasi keagamaan.
- Jurnalis Kristen dan aktivis demokrasi.
- Umat Kristen yang ingin terlibat dalam kehidupan berbangsa secara bermartabat.
Penutup: Sebuah Suara Profetik untuk Zaman Ini
Buku ini merupakan kontribusi penting dalam wacana teologi publik di Indonesia. Dharma Leksana berhasil memetakan kompleksitas hubungan gereja dan politik dengan jernih dan menggugah. Di tengah zaman yang penuh tarik-menarik kepentingan, buku ini hadir sebagai suara profetik yang membimbing gereja agar tetap setia pada Injil namun tidak apatis terhadap realitas sosial-politik.
Wajib dibaca. Wajib direnungkan. Wajib ditindaklanjuti.