Peringatan 4 Tahun Lightworker Nusantara: Pentingnya Keutuhan Diri dan Kesadaran Sosial
Detik-news.com – Jakarta, Ruang aula Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, terasa hangat pada Sabtu (24/10/2026). Di tempat yang menyimpan jejak peradaban literasi bangsa tersebut, puluhan orang berkumpul dalam suasana yang hening namun sarat makna. Mereka hadir untuk memperingati milad keempat Lightworker Nusantara, sebuah ruang perjumpaan yang konsisten mengusung tajuk “Transformasi Batin Sebagai Jalan Menuju Kedamaian”.
Empat tahun perjalanan bukanlah sekadar deretan angka dalam penanggalan. Bagi komunitas ini, momentum tersebut menjadi ruang refleksi mendalam mengenai tautan erat antara kesadaran diri, kedewasaan spiritual, dan tanggung jawab sosial. Di tengah dinamika dunia yang kerap dipenuhi riuk hiruk perselisihan, kedamaian kerap kali hanya berakhir sebagai slogan atau cita-cita abstrak. Namun di sini, kedamaian ditempatkan sebagai jalan hidup yang diwujudkan melalui perubahan nyata cara manusia berpikir, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesamanya.

Menyala dan Meruwat dari Dalam
Sesepuh Sastrajendra Living Academy (SLA), Toni Junus Kanjeng NgGung, menyampaikan pesan mendasar yang menyentuh hakekat perjalanan batin. Menurutnya, perubahan yang bermakna tidak bisa digantungkan pada upaya luar semata, melainkan menuntut keberanian untuk menyelami dan menyelaraskan kedalaman diri.
“Jadikan dirimu utuh terlebih dahulu. Olah batinmu, jernihkan napasmu, rawat ragamu, dan integrasikan seluruh bayang-bayang. Sebab, ketika dirimu telah menjadi utuh dan selaras dengan Sumber Kesadaran, keberadaanmu saja sudah cukup untuk meruwat kegelapan. Tetaplah membumi, dan biarkan hidupmu menyala (murub) menjadi penerang, penyembuh, dan peneduh bagi semesta,” ujar Toni di hadapan para peserta.
Filosofi murub atau menyala yang diuraikan Toni menghadirkan arah baru dalam memaknai spiritualitas. Menjadi penerang bukanlah upaya menempatkan diri lebih tinggi atau merasa paling benar, melainkan menghadirkan kejernihan di tengah kebingungan. Menjadi penyembuh berarti kesediaan merawat kepedulian dan memulihkan hubungan yang retak. Sedangkan menjadi peneduh adalah tindakan nyata dalam menciptakan ruang yang aman bagi dialog, penghormatan, serta pertumbuhan bersama.
“Kedamaian dunia dimulai dari napas dan pikiran yang tenang,” tegas Toni.

Perjumpaan Lintas Tradisi dan Ruang Dialog
Peringatan empat tahun ini kian berwarna dengan hadirnya sejumlah tokoh dari beragam latar belakang kebudayaan, pemerintahan, dan spiritualitas. Di antaranya tampak Wali Kota Padang Panjang Sumatera Barat, H. Hendri Arnis, BSBA; pendiri dan pembina Lembaga Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (LPK), Sunardjo Sumargono atau yang akrab disapa Ki Gelo Bejad; serta Ketua Umum FKPPAI, Ki Saung Rahsa.
Kehadiran para tokoh ini mempertegas bahwa olah batin dan penyucian jiwa tidak boleh berhenti pada ruang personal yang soliter. Nilai-nilai spiritual mendapatkan bentuk utuhnya saat diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari yang menghormati perbedaan, memperkuat solidaritas sosial, serta menyelesaikan berbagai persoalan hidup secara bijaksana.
Transformasi pribadi pada akhirnya harus beriringan dengan kesadaran sosial. Keutuhan batin tidak dijadikan alasan untuk menarik diri dari realitas masyarakat. Sebaliknya, kesadaran yang matang justru mendorong keberanian untuk merespons persoalan ketidakadilan, diskriminasi, dan konflik sosial melalui dialog serta aksi nyata yang memanusiakan manusia.

Memulai dari Diri, Mengalir bagi Sesama
Empat tahun perjalanan Lightworker Nusantara menegaskan pesan bahwa perubahan besar di dunia selalu dimulai dari ruang terkecil: diri sendiri. Proses tersebut mengalir keluar melalui komunikasi yang sehat dalam keluarga, lunturnya prasangka, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, hingga sikap saling menghargai martabat sesama.
Dari olah napas yang disadari hingga pikiran yang dijernihkan, setiap individu memiliki bagian untuk merawat kedamaian. Manusia yang utuh bukanlah mereka yang hanya menemukan ketenangan bagi dirinya sendiri, melainkan mereka yang mampu menghadirkan kedamaian dan peneduh bagi kehidupan orang lain. (Dh.L./Red.***)
