ALGORITMA SEBAGAI BERHALA MODERN
Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Ada sebuah paradoks dalam masyarakat digital.
Manusia menciptakan algoritma untuk membantu dirinya mengambil keputusan. Namun dalam perkembangan berikutnya, manusia mulai menyerahkan keputusan kepada algoritma.
Kita menciptakan mesin pencari, lalu bertanya kepada mesin pencari apa yang harus kita ketahui.
Kita menciptakan sistem rekomendasi, lalu mengikuti apa yang direkomendasikan.
Kita menciptakan sistem peringkat, lalu mempercayai peringkat tersebut.
Kita menciptakan kecerdasan buatan, lalu mulai bertanya kepada mesin tentang keputusan yang sebelumnya kita pertimbangkan sendiri.
Kita menciptakan sistem prediksi, lalu mulai memperlakukan prediksi sebagai masa depan.
Pada titik tertentu, terjadi perubahan mendasar.
Teknologi yang semula merupakan alat mulai memperoleh otoritas.
Algoritma yang semula dirancang untuk membantu manusia mulai menjadi sesuatu yang dipercaya manusia.
Di sinilah pertanyaan teologis muncul.
Apakah algoritma dapat menjadi berhala?
Jawabannya tidak berarti bahwa sebuah algoritma adalah berhala secara literal. Algoritma tidak memiliki sifat ilahi dan tidak dengan sendirinya merupakan objek penyembahan religius.
Yang perlu dikritik adalah proses ketika manusia memberikan kepada teknologi kepercayaan, otoritas dan ketergantungan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah.
Dalam pengertian tersebut, algoritma dapat menjadi bentuk berhala modern.
Berhala selalu berkaitan dengan pengalihan pusat kepercayaan.
Manusia mengambil sesuatu yang diciptakannya sendiri, kemudian memperlakukannya seolah-olah memiliki kuasa yang melampaui batas ciptaan.
Pada jaman kuno, berhala dapat berupa patung.
Pada jaman modern, berhala dapat mengambil bentuk ideologi, kekuasaan, uang, bangsa, pasar, atau teknologi.
Dalam masyarakat digital, data dan algoritma dapat memperoleh fungsi serupa ketika keduanya ditempatkan sebagai sumber kebenaran, keamanan, prediksi dan keputusan terakhir.
Masalahnya bukan teknologi.
Masalahnya adalah absolutisasi teknologi.
Karena itu, kritik Teologi Algoritma bukanlah seruan untuk kembali ke dunia tanpa teknologi.
Teologi Algoritma justru mengajak kita menempatkan teknologi pada tempat yang benar.
Algoritma adalah ciptaan.
Manusia adalah pengelola.
Allah adalah Tuhan.
Urutan ini harus dipertahankan.
1. Apa Itu Berhala?
Dalam Alkitab, berhala pada dasarnya bukan sekadar benda.
Berhala adalah ciptaan yang ditempatkan pada posisi yang seharusnya menjadi milik Allah.
Perintah pertama dalam Dekalog menyatakan:
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”¹
Larangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan berhala berkaitan dengan loyalitas, kepercayaan dan orientasi hidup.
Berhala muncul ketika sesuatu selain Allah menjadi pusat kehidupan manusia.
Karena itu, penyembahan berhala dapat berlangsung tanpa patung.
- Uang dapat menjadi berhala.
- Kekuasaan dapat menjadi berhala.
- Nasionalisme dapat menjadi berhala.
- Karier dapat menjadi berhala.
- Popularitas dapat menjadi berhala.
- Teknologi juga dapat menjadi berhala.
Dalam tradisi teologis, Agustinus memahami bahwa manusia memiliki struktur hasrat yang mencari sesuatu yang dapat menjadi tujuan akhir. Persoalan moral muncul ketika sesuatu yang terbatas dicintai secara tidak teratur atau ditempatkan di atas Allah.²
Konsep tersebut sangat relevan bagi masyarakat algoritmik.
Algoritma tidak harus dipuja secara religius agar dapat berfungsi seperti berhala.
Cukup ketika manusia mulai mengatakan:
“Algoritma pasti lebih tahu.”
“Data tidak mungkin salah.”
“Kalau sistem mengatakan demikian, berarti demikianlah kenyataannya.”
“Kalau tidak direkomendasikan algoritma, berarti tidak penting.”
“Kalau tidak muncul di mesin pencari, berarti tidak relevan.”
“Kalau AI mengatakan demikian, berarti jawabannya benar.”
Pernyataan semacam itu menunjukkan perubahan dalam struktur kepercayaan.
Manusia mulai memindahkan otoritas dari pertimbangan manusia kepada sistem.
Di sinilah konsep berhala menjadi relevan.
Berhala dan Absolutisasi
Berhala memiliki satu karakter utama: sesuatu yang terbatas memperoleh status absolut.
Algoritma memiliki keterbatasan.
- Ia bergantung pada data.
- Ia bergantung pada desain.
- Ia bergantung pada tujuan yang ditentukan manusia.
- Ia bergantung pada infrastruktur.
- Ia bergantung pada model matematis.
- Ia bergantung pada asumsi.
Namun ketika keterbatasan tersebut dilupakan, algoritma dapat memperoleh status yang terlalu tinggi.
- Ia tampak objektif.
- Ia tampak rasional.
- Ia tampak netral.
- Ia tampak lebih pintar daripada manusia.
Padahal algoritma tetap merupakan konstruksi manusia.
Karena itu, Teologi Algoritma perlu membedakan antara menggunakan algoritma dan mempercayai algoritma secara absolut.
Menggunakan algoritma adalah tindakan praktis.
Mengabsolutkan algoritma adalah persoalan teologis.
Berhala sebagai Pengganti Ketergantungan
Berhala juga berhubungan dengan rasa aman.
Manusia mencari sesuatu yang dapat mengurangi ketidakpastian.
Algoritma menawarkan prediksi.
Prediksi memberikan rasa kontrol.
Semakin kompleks kehidupan, semakin menarik sistem yang dapat memberikan jawaban cepat.
“Siapa yang cocok untuk saya?”
“Produk apa yang harus saya beli?”
“Rute mana yang paling cepat?”
“Konten apa yang harus saya tonton?”
“Apakah seseorang berisiko melakukan sesuatu?”
“Apakah sebuah aplikasi dapat memprediksi kebutuhan saya?”
Algoritma memberi jawaban.
Masalahnya muncul ketika manusia tidak lagi mampu menerima ketidakpastian tanpa bantuan sistem.
Ketergantungan terhadap prediksi dapat berkembang menjadi bentuk baru kecemasan.
Manusia terus mencari kepastian dari mesin.
Di sinilah teologi mengingatkan bahwa kehidupan manusia selalu mengandung misteri.
Iman tidak berarti memiliki seluruh jawaban.
Iman berarti percaya kepada Allah di tengah ketidakpastian.
Jika algoritma menjadi sarana untuk menghindari seluruh ketidakpastian, maka manusia dapat kehilangan kapasitas untuk percaya, menimbang, menunggu dan berharap.
2. Dari Patung ke Data
Berhala kuno memiliki bentuk yang dapat dilihat.
Berhala digital jauh lebih sulit dikenali.
Ia tidak selalu memiliki wajah.
Tidak selalu memiliki altar.
Tidak selalu memiliki ritual formal.
Ia dapat berbentuk angka.
Angka pengikut.
Angka likes.
Angka penayangan.
Angka penjualan.
Skor kredit.
Rating.
Ranking.
Engagement.
Conversion rate.
Prediksi risiko.
Data.
Dalam masyarakat digital, angka memperoleh kekuatan simbolik yang sangat besar.
Sesuatu yang dapat diukur tampak lebih nyata.
Sesuatu yang dapat dihitung tampak lebih objektif.
Sesuatu yang dapat diberi skor tampak lebih dapat dipercaya.
Di sinilah transformasi dari patung ke data menjadi penting.
Patung berhala kuno mengatakan:
“Percayalah kepadaku.”
Berhala digital dapat mengatakan:
“Angka sudah berbicara.”
Keduanya memiliki kesamaan struktural.
Keduanya memberikan kesan bahwa manusia dapat menemukan kepastian melalui sesuatu yang berada di luar dirinya.
Data sebagai Representasi
Data memiliki nilai yang sangat besar.
Data dapat membantu kita memahami pola.
Data dapat membantu penelitian.
Data dapat meningkatkan efisiensi.
Data dapat membantu pelayanan publik.
Data dapat membantu diagnosis.
Namun data tetap merupakan representasi.
Data bukan realitas secara keseluruhan.
Jika kita mengukur kebahagiaan melalui jumlah likes, kita telah mengganti kebahagiaan dengan indikator.
Jika kita mengukur keberhasilan gereja hanya melalui jumlah penonton, kita telah mengganti pertumbuhan rohani dengan metrik.
Jika kita mengukur kualitas khotbah hanya melalui engagement, kita telah mengganti kedalaman teologis dengan popularitas.
Jika kita mengukur nilai seseorang melalui produktivitas digital, kita telah mengganti martabat manusia dengan performa.
Masalah tersebut dapat disebut sebagai reduksionisme metrik.
Apa yang dapat diukur dianggap lebih penting daripada apa yang tidak mudah diukur.
Padahal banyak hal terpenting dalam kehidupan manusia sulit dihitung.
Kasih sulit dihitung.
Kesetiaan sulit dihitung.
Pertobatan sulit dihitung.
Pengampunan sulit dihitung.
Kedewasaan rohani sulit dihitung.
Pengorbanan sulit dihitung.
Harapan sulit dihitung.
Iman sulit dihitung.
Jika hanya yang dapat diukur yang dianggap bernilai, maka banyak dimensi kehidupan manusia akan menghilang dari perhatian.
Dari Berhala Visual ke Berhala Numerik
Perubahan dari patung ke data menunjukkan transformasi bentuk berhala.
Berhala tidak harus berupa objek yang disembah secara ritual.
Ia dapat berupa sistem penilaian yang menguasai cara manusia memahami realitas.
Ketika angka menjadi ukuran utama kehidupan, angka dapat mengambil fungsi yang menyerupai berhala.
Manusia kemudian hidup untuk angka.
Mencari angka.
Mengejar angka.
Takut terhadap angka.
Mengukur dirinya melalui angka.
Pada titik tersebut, angka tidak lagi sekadar alat pengukuran.
Angka telah menjadi sumber identitas.
Dan ketika identitas manusia ditentukan oleh angka, manusia mulai hidup di bawah kuasa metrik.
3. Dataisme
Istilah dataisme digunakan untuk menggambarkan kecenderungan menempatkan data sebagai pusat pengetahuan dan pengambilan keputusan dalam kehidupan modern.
Dalam bentuk populernya, dataisme mengandaikan bahwa realitas dapat dipahami secara optimal melalui pengumpulan, pengolahan dan analisis data dalam skala besar.³
Dataisme bukan satu doktrin yang memiliki bentuk tunggal.
Istilah ini digunakan dalam berbagai konteks dan tidak selalu memiliki makna yang sama.
Namun bagi Teologi Algoritma, dataisme penting sebagai fenomena budaya.
Pertanyaannya bukan apakah data berguna.
Tentu data berguna.
Pertanyaannya:
Apa yang terjadi ketika data memperoleh status epistemologis yang terlalu tinggi?
Jika semua persoalan dianggap dapat diselesaikan dengan lebih banyak data, maka kita mulai mengabaikan pertanyaan tentang makna.
Jika semua keputusan dianggap dapat dioptimalkan melalui data, maka kita mulai mengabaikan pertanyaan tentang nilai.
Jika semua perilaku dianggap dapat diprediksi melalui data, maka kita mulai mengabaikan kebebasan.
Jika semua manusia dianggap dapat diprofilkan melalui data, maka kita mulai mengabaikan misteri pribadi.
Dengan demikian, dataisme bukan persoalan teknologi semata.
Ia adalah persoalan epistemologi dan antropologi.
Data Tidak Sama dengan Kebenaran
Data memberikan informasi.
Tetapi data tidak berbicara sendiri.
Data selalu membutuhkan:
pengumpulan,
kategori,
seleksi,
interpretasi,
konteks,
dan tujuan.
Apa yang dikumpulkan?
Apa yang tidak dikumpulkan?
Bagaimana data dikategorikan?
Siapa yang menentukan variabel?
Siapa yang memilih model?
Apa tujuan analisis?
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa data tidak pernah sepenuhnya bebas dari konteks.
Bahkan angka yang tampak objektif tetap memiliki sejarah produksi.
Angka tertentu menjadi penting karena seseorang memutuskan bahwa angka tersebut penting.
Sistem tertentu dioptimalkan karena seseorang menentukan tujuan optimasi.
Dengan demikian, data membutuhkan hermeneutika.
Kita tidak hanya membaca data.
Kita juga perlu membaca bagaimana data diproduksi.
Dataisme dan Keselamatan
Ada persoalan yang lebih dalam.
Dataisme dapat menghasilkan imajinasi bahwa manusia dapat mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik jika memiliki cukup data.
Semakin banyak data.
Semakin akurat prediksi.
Semakin baik keputusan.
Semakin sedikit ketidakpastian.
Semakin besar kontrol.
Dalam bentuk ekstrem, logika ini dapat menyerupai narasi keselamatan sekuler.
Masalah manusia dianggap sebagai masalah informasi.
Keselamatan dianggap sebagai persoalan optimasi.
Kematian dianggap sebagai masalah teknologi.
Ketidaksempurnaan dianggap sebagai masalah data.
Dalam konteks ini, teologi perlu bertanya:
Apakah semua persoalan manusia dapat diselesaikan dengan informasi yang lebih banyak?
Jawabannya tidak.
Manusia bukan sekadar makhluk yang kekurangan informasi.
Manusia juga adalah makhluk moral dan spiritual.
Manusia mengalami dosa.
Manusia membutuhkan pengampunan.
Manusia membutuhkan relasi.
Manusia membutuhkan kasih.
Manusia membutuhkan makna.
Manusia membutuhkan Allah.
Tidak ada jumlah data yang secara otomatis menghasilkan keselamatan.
Dataisme dan Penyembahan
Di sinilah dataisme dapat menjadi berhala modern.
Bukan karena data itu jahat.
Tetapi karena data dapat memperoleh status absolut.
Jika manusia mulai percaya bahwa:
“Data selalu benar,”
maka data telah melampaui batasnya.
Jika manusia mengatakan:
“Apa yang tidak dapat diukur tidak penting,”
maka manusia telah mempersempit realitas.
Jika manusia mengatakan:
“Apa yang tidak dapat diprediksi tidak dapat dipercaya,”
maka kebebasan dan misteri manusia telah dikorbankan.
Teologi Algoritma karena itu tidak menolak data.
Ia menempatkan data dalam hirarki yang benar.
Data adalah alat.
Pengetahuan membutuhkan interpretasi.
Kebijaksanaan membutuhkan penilaian.
Kehidupan membutuhkan relasi.
Dan keselamatan berasal dari Allah.
4. Ketika Angka Menjadi Kebenaran
Masyarakat digital memiliki kecenderungan kuat untuk mengubah kualitas menjadi kuantitas.
Berapa banyak?
Berapa persen?
Berapa penonton?
Berapa pengikut?
Berapa rating?
Berapa lama?
Berapa kali?
Berapa besar?
Pertanyaan tersebut berguna.
Namun ketika pertanyaan kuantitatif menjadi satu-satunya cara memahami realitas, terjadi reduksi.
Kita mulai menganggap bahwa yang lebih banyak pasti lebih baik.
Yang lebih tinggi pasti lebih benar.
Yang lebih populer pasti lebih penting.
Yang lebih sering muncul pasti lebih relevan.
Padahal semua asumsi tersebut dapat keliru.
Viralitas dan Kebenaran
Sebuah berita dapat viral karena kontroversial.
Sebuah khotbah dapat viral karena emosional.
Sebuah teori dapat viral karena mengejutkan.
Sebuah informasi palsu dapat viral karena memicu kemarahan.
Karena itu:
viralitas bukan validitas.
Algoritma platform dapat mengoptimalkan konten berdasarkan prediksi engagement. Tujuan sistem tidak selalu identik dengan tujuan epistemologis manusia.
Sistem dapat bertanya:
“Apakah pengguna akan menonton?”
Teologi bertanya:
“Apakah yang ditonton itu benar?”
Sistem dapat bertanya:
“Apakah pengguna akan mengklik?”
Teologi bertanya:
“Apakah informasi tersebut baik?”
Sistem dapat bertanya:
“Apakah pengguna akan kembali?”
Teologi bertanya:
“Manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh kebiasaan tersebut?”
Perbedaan tujuan ini sangat penting.
Angka dan Gereja
Persoalan ini juga memasuki kehidupan gereja.
Jumlah jemaat penting.
Jumlah baptisan penting.
Jumlah pelayanan penting.
Jumlah penonton penting.
Jumlah pelanggan kanal penting.
Namun angka bukan keseluruhan realitas gereja.
Gereja dapat memiliki ribuan pengikut digital tetapi tidak memiliki kedalaman komunitas.
Sebuah khotbah dapat memiliki jutaan penayangan tetapi tidak membentuk pertobatan.
Sebuah akun dapat memiliki engagement tinggi tetapi menghasilkan polarisasi.
Sebaliknya, pelayanan yang sangat kecil dapat memiliki dampak besar terhadap kehidupan seseorang.
Karena itu, metrik harus ditempatkan pada tempatnya.
Metrik dapat membantu gereja mengevaluasi pelayanan.
Metrik tidak boleh menjadi pengganti discernment teologis.
Ketika Angka Menjadi Hakim
Masalah menjadi semakin serius ketika angka mulai menentukan nilai manusia.
Rating rendah dapat membuat seseorang dianggap tidak layak.
Skor risiko tinggi dapat mengurangi kesempatan.
Jumlah pengikut rendah dapat membuat seseorang dianggap tidak berpengaruh.
Engagement rendah dapat membuat suatu pesan dianggap tidak penting.
Di sini angka telah berubah dari alat menjadi hakim.
Teologi Kristen perlu menolak transformasi tersebut.
Allah tidak menilai manusia berdasarkan metrik digital.
Martabat manusia tidak diberikan oleh algoritma.
Manusia tidak menjadi berharga karena mendapat skor tinggi.
Manusia tidak menjadi tidak berharga karena mendapat skor rendah.
Karena manusia adalah Imago Dei, nilai manusia mendahului seluruh sistem pengukuran manusia.⁴
5. Ketika Algoritma Menjadi Otoritas
Otoritas merupakan persoalan penting dalam masyarakat algoritmik.
Siapa yang kita percaya?
Dahulu otoritas dapat berasal dari orang tua, guru, pemimpin agama, ilmuwan, institusi dan tradisi.
Sekarang otoritas semakin tersebar.
Mesin pencari.
Influencer.
Sistem rekomendasi.
Platform.
AI.
Ranking.
Rating.
Algoritma.
Perubahan tersebut menghasilkan bentuk baru otoritas.
Otoritas Tanpa Wajah
Salah satu karakter algoritmik adalah sifatnya yang impersonal.
Tidak ada satu orang yang berdiri di depan kita.
Tidak ada wajah.
Tidak ada suara manusia.
Hanya hasil.
“Ini rekomendasi untuk Anda.”
“Ini hasil pencarian terbaik.”
“Orang seperti Anda juga membeli ini.”
“Video berikutnya.”
“Untuk Anda.”
Bahasa semacam ini terlihat sederhana.
Namun di baliknya terdapat sistem klasifikasi dan prediksi.
Kita menerima hasil tanpa selalu mengetahui proses yang menghasilkan hasil tersebut.
Inilah otoritas tanpa wajah.
Mengapa Kita Percaya?
Ada beberapa alasan.
Pertama, algoritma terlihat objektif.
Kedua, algoritma bekerja cepat.
Ketiga, algoritma memiliki akses terhadap data dalam jumlah besar.
Keempat, algoritma sering memberikan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Kelima, algoritma menghasilkan pengalaman yang terasa personal.
Semua ini meningkatkan kepercayaan.
Namun kepercayaan terhadap sistem harus tetap proporsional terhadap keterbatasannya.
Algoritma dapat memiliki kemampuan komputasional yang luar biasa.
Tetapi kemampuan komputasional bukan kebijaksanaan.
Kecepatan bukan kebenaran.
Konsistensi bukan keadilan.
Prediksi bukan nubuat.
Algoritma sebagai Mediator Otoritas
Persoalan ini sangat penting bagi gereja.
Jika seseorang mencari pertanyaan teologis di internet, algoritma menentukan hasil yang muncul.
Jika seseorang mencari khotbah, algoritma menentukan rekomendasi.
Jika seseorang ingin mengetahui pandangan tentang doktrin tertentu, sistem dapat mempertemukannya dengan konten tertentu.
Dengan demikian, algoritma menjadi mediator otoritas.
Disertasi Teologi Algoritma menunjukkan bahwa algoritma dapat menjadi aktor epistemologis yang memengaruhi cara umat menemukan dan memahami pengetahuan iman.
Masalahnya bukan bahwa algoritma merekomendasikan konten religius.
Masalahnya adalah ketika rekomendasi algoritmik mulai dianggap sebagai legitimasi teologis.
Konten yang direkomendasikan bukan otomatis konten yang paling benar.
Konten yang viral bukan otomatis konten yang paling setia kepada Injil.
Pengkhotbah yang memiliki pengikut paling banyak bukan otomatis memiliki otoritas teologis paling besar.
Di sinilah gereja membutuhkan discernment.
Otoritas Allah dan Otoritas Algoritma
Dalam iman Kristen, otoritas terakhir bukan berada pada algoritma.
Kitab Suci menjadi sumber utama kesaksian iman.
Kristus menjadi pusat.
Tradisi gereja memberikan kebijaksanaan.
Komunitas iman melakukan discernment.
Rasio membantu memahami.
Pengalaman menjadi bagian dari refleksi.
Teknologi menjadi sarana.
Algoritma tidak boleh mengambil alih seluruh struktur tersebut.
Algoritma boleh membantu kita menemukan.
Algoritma tidak boleh menentukan apa yang harus kita percayai tanpa pengujian.
Algoritma boleh membantu kita membaca.
Algoritma tidak boleh menggantikan hermeneutika.
Algoritma boleh membantu kita belajar.
Algoritma tidak boleh menggantikan guru dan komunitas.
Algoritma boleh membantu gereja bermisi.
Algoritma tidak boleh menentukan isi Injil.
6. Kebebasan Manusia dan Determinisme Algoritmik
Persoalan paling serius muncul ketika manusia mulai percaya bahwa algoritma mengetahui dan menentukan dirinya.
Kita sering mendengar ungkapan:
“Algoritma tahu apa yang saya suka.”
“Algoritma tahu apa yang saya butuhkan.”
“Algoritma tahu pasangan yang cocok untuk saya.”
“Algoritma tahu berita yang ingin saya baca.”
“AI tahu apa yang harus saya lakukan.”
Bahasa tersebut menunjukkan perubahan antropologis.
Manusia mulai mendefinisikan dirinya melalui prediksi mesin.
Di sinilah kita memasuki persoalan determinisme algoritmik.
Prediksi Bukan Takdir
Algoritma bekerja berdasarkan probabilitas.
Jika sistem menemukan pola tertentu, ia dapat memperkirakan bahwa perilaku tertentu mungkin terjadi.
Tetapi probabilitas tidak sama dengan kepastian.
Jika sistem mengatakan bahwa seseorang memiliki kemungkinan tinggi melakukan sesuatu, kemungkinan tersebut tidak berarti bahwa orang tersebut pasti akan melakukannya.
Perbedaan ini sangat penting bagi konsep kebebasan.
Manusia tidak boleh diperlakukan seolah-olah seluruh masa depannya sudah ditentukan oleh pola masa lalu.
Masa Lalu sebagai Data
Algoritma melihat masa depan melalui data masa lalu.
Kita melakukan sesuatu.
Tindakan itu menghasilkan data.
Data digunakan untuk membangun model.
Model memprediksi perilaku berikutnya.
Prediksi kemudian dapat memengaruhi perlakuan terhadap kita.
Terjadi lingkaran:
masa lalu → data → model → prediksi → keputusan → perilaku → data baru.
Jika lingkaran tersebut tidak dikritisi, prediksi dapat berubah menjadi mekanisme yang memperkuat dirinya sendiri.
Misalnya, seseorang diberi label berisiko.
Karena label tersebut, ia memperoleh kesempatan yang lebih sedikit.
Karena kesempatan lebih sedikit, hasil hidupnya menjadi berbeda.
Hasil tersebut kemudian digunakan sebagai data untuk membenarkan prediksi awal.
Dengan demikian, prediksi tidak hanya membaca realitas.
Ia dapat ikut membentuk realitas.
Determinisme dan Tanggung Jawab
Teologi Kristen memiliki alasan kuat untuk menolak determinisme algoritmik.
Konsep pertobatan mengandaikan bahwa manusia dapat berubah.
Konsep pengampunan mengandaikan bahwa masa lalu tidak harus menjadi masa depan.
Konsep panggilan mengandaikan bahwa manusia dapat merespons.
Konsep tanggung jawab mengandaikan adanya kapasitas untuk memilih.
Jika manusia sepenuhnya ditentukan oleh data masa lalu, maka ruang bagi pertobatan dan transformasi menjadi semakin sempit.
Karena itu, gereja harus mempertahankan pandangan tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab.
Hal ini tidak berarti bahwa manusia bebas secara mutlak.
Manusia dipengaruhi oleh keluarga, ekonomi, budaya, pendidikan, struktur sosial dan teknologi.
Tetapi pengaruh tidak identik dengan determinasi.
Algoritma dapat memengaruhi.
Algoritma tidak boleh dianggap sebagai penentu terakhir.
Algoritma dan Kehendak
Masalah menjadi lebih kompleks karena algoritma tidak hanya memprediksi pilihan.
Ia juga dapat membentuk lingkungan tempat pilihan dibuat.
Rekomendasi menentukan apa yang muncul.
Urutan konten menentukan apa yang terlihat.
Notifikasi menentukan kapan perhatian dipanggil.
Desain antarmuka menentukan bagaimana tindakan dilakukan.
Dengan demikian, kebebasan manusia tidak hilang secara langsung.
Namun kebebasan dapat dibentuk dan diarahkan.
Inilah yang membuat persoalan algoritmik berbeda dari sekadar persoalan pilihan individual.
Kita tidak hanya memilih di dalam sistem.
Kita memilih di dalam lingkungan yang telah dirancang.
Karena itu, kebebasan digital membutuhkan kesadaran.
Kita harus mengetahui bahwa pilihan kita tidak berlangsung dalam ruang kosong.
Kebebasan sebagai Discernment
Kebebasan Kristen bukan sekadar kemampuan memilih sebanyak mungkin pilihan.
Kebebasan juga berkaitan dengan kemampuan memilih yang baik.
Dalam masyarakat digital, kebebasan membutuhkan discernment.
Kita harus mampu bertanya:
Mengapa saya melihat konten ini?
Mengapa saya menginginkannya?
Siapa yang mendapatkan keuntungan dari perhatian saya?
Mengapa saya terus kembali?
Apakah keputusan saya sungguh milik saya?
Atau keputusan tersebut merupakan hasil pembentukan sistem yang tidak saya sadari?
Pertanyaan tersebut tidak berarti bahwa setiap pilihan kita sepenuhnya dikendalikan algoritma.
Pertanyaan itu justru mengembalikan kesadaran.
Kita tidak menjadi bebas dengan keluar dari seluruh teknologi.
Kita menjadi lebih bebas ketika memahami bagaimana teknologi memengaruhi kita dan mampu mengarahkan penggunaannya kepada tujuan yang baik.
7. Mengembalikan Allah ke Pusat Kehidupan Digital
Jika algoritma dapat menjadi berhala, maka jawabannya bukan menghancurkan algoritma.
Jawabannya adalah mengembalikan Allah ke pusat.
Prinsip ini terdengar sederhana.
Namun implikasinya sangat besar.
Jika Allah adalah pusat, maka teknologi bukan pusat.
Jika Allah adalah sumber kebenaran, maka algoritma bukan sumber kebenaran terakhir.
Jika Allah adalah dasar martabat manusia, maka data bukan ukuran nilai manusia.
Jika Kristus adalah Logos, maka logika algoritmik harus berada di bawah kebenaran Logos.

7.1 Allah sebagai Pusat
Kehidupan digital tetap merupakan bagian dari kehidupan manusia di hadapan Allah.
Tidak ada wilayah digital yang berada di luar tanggung jawab iman.
Ketika kita membuka media sosial, kita tetap berada di hadapan Allah.
Ketika kita menggunakan AI, kita tetap berada di hadapan Allah.
Ketika kita mengunggah sesuatu, kita tetap berada di hadapan Allah.
Ketika kita membaca berita, kita tetap berada di hadapan Allah.
Ketika kita mengumpulkan data orang lain, kita tetap berada di hadapan Allah.
Kesadaran ini penting karena iman Kristen tidak mengenal pemisahan mutlak antara kehidupan “rohani” dan kehidupan digital.
Kehidupan digital adalah bagian dari kehidupan manusia.
Karena itu, ia juga merupakan bagian dari kehidupan moral.
7.2 Dari Konsumsi ke Penatalayanan
Salah satu cara mengembalikan Allah ke pusat adalah mengubah cara kita memahami teknologi.
Kita bukan pemilik mutlak teknologi.
Kita adalah penatalayan.
Konsep penatalayanan mengingatkan bahwa apa yang kita miliki harus digunakan secara bertanggung jawab.
Data yang kita miliki harus dijaga.
Teknologi yang kita kembangkan harus dipertanggungjawabkan.
Platform yang kita kelola harus memperhatikan dampaknya.
Algoritma yang kita desain harus mempertimbangkan manusia yang terkena dampaknya.
Dengan demikian, teknologi berada dalam kerangka stewardship.
7.3 Dari Ketergantungan ke Kebijaksanaan
Kita tidak dipanggil untuk berhenti menggunakan algoritma.
Kita dipanggil untuk tidak menyerahkan kebijaksanaan kepada algoritma.
Algoritma dapat memberikan informasi.
Kita membutuhkan kebijaksanaan untuk menggunakannya.
Algoritma dapat memberikan pilihan.
Kita membutuhkan pertimbangan moral.
Algoritma dapat memberikan prediksi.
Kita membutuhkan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.
Algoritma dapat memberikan efisiensi.
Kita perlu menentukan apakah sesuatu memang layak dilakukan.
Inilah perbedaan antara intelligence dan wisdom.
Kecerdasan dapat menemukan cara.
Kebijaksanaan menentukan tujuan.
Algoritma dapat membantu menjawab “bagaimana”.
Teologi terus bertanya “untuk apa”.
7.4 Praktik Digital yang Berpusat pada Allah
Mengembalikan Allah ke pusat kehidupan digital dapat diwujudkan dalam praktik sederhana.
Pertama, discernment sebelum konsumsi.
Tidak semua konten perlu dikonsumsi hanya karena direkomendasikan.
Kedua, keheningan digital.
Manusia membutuhkan ruang tanpa notifikasi untuk berpikir, berdoa dan berefleksi.
Ketiga, pemeriksaan sumber.
Tidak semua informasi yang muncul di layar dapat dipercaya.
Keempat, pengendalian perhatian.
Perhatian merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada kepentingan platform.
Kelima, penghormatan terhadap privasi.
Data manusia harus diperlakukan secara bertanggung jawab.
Keenam, komunitas nyata.
Relasi digital tidak boleh sepenuhnya menggantikan perjumpaan manusia.
Ketujuh, pembentukan spiritualitas.
Teknologi harus menjadi sarana yang mendukung kehidupan rohani, bukan menggantikan kehidupan rohani.
7.5 Gereja dan Dekonstruksi Berhala Digital
Gereja memiliki tugas khusus.
Gereja harus membantu umat mengenali berhala yang tidak tampak.
Jika pada masa lalu gereja mengajarkan bahwa uang dapat menjadi berhala, maka gereja sekarang juga perlu mengajarkan bahwa angka dapat menjadi berhala.
Jika gereja mengajarkan bahwa kekuasaan dapat menjadi berhala, maka gereja perlu mengajarkan bahwa algoritma juga dapat menjadi sumber kekuasaan.
Jika gereja mengajarkan bahwa popularitas bukan ukuran kesetiaan kepada Allah, maka gereja juga harus mengingatkan bahwa jumlah likes bukan ukuran kebenaran.
Jika gereja mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mencari keselamatan dari kekayaan, maka gereja juga harus mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mencari keselamatan dari data.
Dengan demikian, Teologi Algoritma menjadi bentuk baru dari kritik terhadap berhala.
7.6 Logos di Atas Algoritma
Semua ini membawa kita kembali kepada Logos.
Yohanes 1:1 menyatakan:
“Pada mulanya adalah Firman.”
Pernyataan tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat algoritmik.
Sebelum ada data, ada Logos.
Sebelum ada kode, ada Logos.
Sebelum ada mesin, ada Logos.
Sebelum manusia menciptakan algoritma, manusia sendiri telah berada dalam realitas yang diciptakan Allah.
Karena itu, algoritma tidak berada pada awal.
Algoritma bukan dasar keberadaan.
Algoritma bukan sumber makna.
Algoritma bukan tujuan akhir.
Algoritma berada di dalam dunia ciptaan.
Logos berada pada pusat kesaksian iman Kristen tentang realitas.
Inilah alasan Teologi Algoritma harus bersifat Kristosentris.
Jika Logos menjadi pusat, algoritma dapat ditempatkan pada posisi yang tepat.
Ia menjadi alat.
Ia dapat menjadi sarana pelayanan.
Ia dapat menjadi instrumen pengetahuan.
Ia dapat menjadi bagian dari misi.
Tetapi ia tidak menjadi Tuhan.
8. Algoritma sebagai Berhala dan Tugas Profetis Gereja
Kritik terhadap berhala selalu memiliki dimensi profetis.
Nabi tidak hanya mengatakan bahwa penyembahan berhala itu salah.
Nabi membongkar ilusi bahwa berhala memiliki kuasa absolut.
Yesaya 44 memberikan gambaran ironis tentang manusia yang menggunakan kayu untuk membuat berbagai keperluan, lalu sebagian kayu yang sama dibuat menjadi berhala dan disembah.²⁵
Ironi tersebut dapat dibaca kembali dalam masyarakat digital.
Manusia menciptakan algoritma.
Manusia menentukan tujuan algoritma.
Manusia memasukkan data.
Manusia membangun infrastruktur.
Kemudian manusia mulai berkata:
“Algoritma menentukan.”
Di sini terdapat ironi modern.
Kita menciptakan sesuatu.
Kemudian kita tunduk kepadanya.
Kita membuat sistem.
Kemudian kita membiarkan sistem menentukan kita.
Kita menghasilkan data.
Kemudian kita membiarkan data mendefinisikan diri kita.
Kita menciptakan metrik.
Kemudian kita mengukur nilai diri kita melalui metrik tersebut.
Inilah bentuk baru keterasingan.
Karena itu, gereja harus mengembangkan suara profetis yang mampu berkata:
Algoritma bukan Tuhan.
Data bukan wahyu.
Prediksi bukan nubuat.
Angka bukan kebenaran terakhir.
Popularitas bukan kesetiaan.
Viralitas bukan Injil.
AI bukan hikmat ilahi.
Platform bukan gereja.
Manusia bukan produk.
Pernyataan-pernyataan tersebut bukan anti-teknologi.
Sebaliknya, semuanya merupakan usaha untuk membebaskan teknologi dari tuntutan menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Teknologi tidak harus menjadi Tuhan.
Ia cukup menjadi alat.
Manusia tidak harus menjadi data.
Ia tetap manusia.
Gereja tidak harus menjadi mesin engagement.
Ia tetap komunitas tubuh Kristus.
Dan algoritma tidak harus menjadi hakim terakhir.
Ia tetap algoritma.
9. Sebuah Etika Anti-Idolatry Digital
Dari seluruh pembahasan, kita dapat merumuskan beberapa prinsip etika anti-idolatry digital.
Pertama, prinsip non-absolutisasi.
Tidak ada teknologi yang boleh memperoleh status absolut.
Kedua, prinsip antropologis.
Manusia selalu lebih besar daripada representasi datanya.
Ketiga, prinsip epistemologis.
Data bukan kebenaran secara otomatis.
Keempat, prinsip etis.
Efisiensi tidak boleh mengalahkan martabat manusia.
Kelima, prinsip kebebasan.
Prediksi tidak boleh diperlakukan sebagai takdir.
Keenam, prinsip akuntabilitas.
Tidak ada kekuasaan algoritmik tanpa tanggung jawab manusia.
Ketujuh, prinsip komunitas.
Keputusan penting tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sistem otomatis.
Kedelapan, prinsip Kristologis.
Logos tetap menjadi pusat.
Prinsip-prinsip tersebut membentuk kerangka sederhana:
Allah → manusia → teknologi.
Bukan:
teknologi → manusia → Allah.
Urutan tersebut menentukan cara kita menggunakan teknologi.
Jika teknologi berada di bawah Allah dan melayani manusia, teknologi dapat menjadi sarana kebaikan.
Jika manusia ditempatkan di bawah teknologi, manusia menjadi objek.
Jika teknologi ditempatkan di atas Allah, teknologi menjadi berhala.
Karena itu, tugas teologi bukan menghentikan teknologi.
Tugas teologi adalah menjaga tata hubungan yang benar.
Penutup
Algoritma dapat menjadi salah satu pencapaian terbesar manusia.
Ia dapat membantu manusia menyelesaikan persoalan yang kompleks.
Ia dapat membantu menemukan informasi.
Ia dapat membantu mengelola transportasi.
Ia dapat membantu penelitian.
Ia dapat membantu pendidikan.
Ia dapat membantu pelayanan.
Ia dapat membantu gereja menjalankan misi.
Namun sesuatu yang sangat berguna dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya ketika ditempatkan pada posisi yang salah.
Pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai.
Uang dapat digunakan untuk melayani atau menguasai.
Kekuasaan dapat digunakan untuk melindungi atau menindas.
Teknologi dapat digunakan untuk membebaskan atau mengendalikan.
Algoritma juga demikian.
Persoalan terbesar bukan apakah algoritma pintar.
Persoalan terbesar adalah siapa yang menentukan tujuan penggunaan kepintaran tersebut.
Di sinilah teologi memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan.
Kita tidak boleh menyerahkan pertanyaan tentang tujuan hidup kepada sistem yang hanya dirancang untuk mengoptimalkan proses.
Kita tidak boleh meminta algoritma menentukan apa yang harus kita cintai.
Kita tidak boleh meminta algoritma menentukan siapa yang layak dihormati.
Kita tidak boleh meminta algoritma menentukan apa yang benar hanya karena sesuatu itu muncul di layar.
Kita tidak boleh meminta data menentukan nilai manusia.
Kita tidak boleh meminta prediksi menentukan masa depan manusia.
Dan kita tidak boleh menjadikan teknologi sebagai pengganti Allah.
Berhala modern mungkin tidak memiliki mata.
Ia dapat berupa angka.
Ia dapat berupa dashboard.
Ia dapat berupa skor.
Ia dapat berupa ranking.
Ia dapat berupa rekomendasi.
Ia dapat berupa model prediktif.
Ia dapat berupa kecerdasan buatan.
Ia dapat berupa algoritma.
Namun cirinya tetap sama.
Sesuatu yang diciptakan manusia mulai memperoleh tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Allah.
Karena itu, kritik terhadap algoritma sebagai berhala pada akhirnya bukan kritik terhadap mesin.
Ini adalah kritik terhadap hati manusia.
Masalahnya bukan hanya algoritma yang semakin kuat.
Masalahnya adalah manusia yang semakin bersedia menyerahkan kebebasan, penilaian, perhatian dan kepercayaannya kepada algoritma.
Di sinilah panggilan Teologi Algoritma menjadi semakin jelas.
Kita harus belajar menggunakan algoritma tanpa menyembahnya.
Kita harus menggunakan data tanpa mendewakannya.
Kita harus menghargai kecerdasan buatan tanpa menganggapnya sebagai sumber hikmat terakhir.
Kita harus memanfaatkan prediksi tanpa mengubahnya menjadi takdir.
Kita harus hidup dalam dunia digital tanpa kehilangan kemampuan untuk diam, berpikir, berdoa, mengasihi dan berharap.
Dan di atas semuanya, kita harus menjaga pusat.
Allah tetap Allah.
Manusia tetap manusia.
Teknologi tetap teknologi.
Algoritma tetap algoritma.
Ketika tata hubungan tersebut terjaga, teknologi dapat ditempatkan kembali sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap ciptaan.
Ketika tata hubungan tersebut rusak, teknologi dapat berubah menjadi berhala.
Karena itu, pertanyaan terakhir bukan:
“Seberapa pintar algoritma?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kepada siapa kita memberikan kepercayaan terakhir?”
Bagi iman Kristen, jawabannya tidak berubah.
Bukan algoritma.
Bukan data.
Bukan angka.
Bukan mesin.
Bukan kecerdasan buatan.
Melainkan Allah.
Dan karena Kristus adalah Logos, maka seluruh logika kehidupan digital pada akhirnya harus ditempatkan di bawah kebenaran Logos.
Algoritma dapat membantu kita menghitung.
Logos mengajar kita memahami.
Algoritma dapat membantu kita memprediksi.
Logos memberi kita pengharapan.
Algoritma dapat mengatur informasi.
Logos memberikan makna.
Algoritma dapat mengoptimalkan proses.
Logos mengarahkan kehidupan kepada tujuan.
Di tengah dunia yang semakin percaya kepada angka, iman Kristen dipanggil untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang penting dapat dihitung.
Di tengah dunia yang semakin percaya kepada prediksi, iman Kristen dipanggil untuk mempertahankan ruang bagi kebebasan, pertobatan dan pengharapan.
Di tengah dunia yang semakin percaya kepada algoritma, gereja dipanggil untuk menyatakan bahwa Allah tidak dapat digantikan oleh sebuah sistem komputasional.
Dan di tengah dunia yang semakin digital, panggilan kita tetap sama:
“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”
Perintah kuno tersebut memperoleh relevansi baru dalam peradaban digital.
Bukan karena algoritma adalah Allah.
Tetapi karena manusia selalu memiliki kecenderungan untuk menjadikan ciptaannya sebagai pengganti Allah.
Maka Teologi Algoritma tidak hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi.
Ia mengajarkan bagaimana tetap menjadi manusia di hadapan Allah ketika teknologi semakin kuat.
Itulah inti kritik terhadap berhala digital.
Dan dari sini kita dapat bergerak menuju pertanyaan berikutnya:
Jika gereja tidak boleh menyembah algoritma, bagaimana gereja dapat membangun praktik digital yang membebaskan?
Pertanyaan tersebut akan membawa kita ke bagian berikutnya.
Catatan Kaki
- Alkitab, Kel. 20:3.
- Augustine, The City of God against the Pagans, trans. R. W. Dyson (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), terutama pembahasan mengenai cinta yang teratur dan orientasi manusia kepada Allah.
- Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (New York: Harper, 2016), 366–80. Istilah dataism digunakan Harari untuk menggambarkan kecenderungan budaya yang menempatkan arus data dan pemrosesan informasi sebagai prinsip penting dalam memahami kehidupan.
- Noreen Herzfeld, In Our Image: Artificial Intelligence and the Human Spirit (Minneapolis: Fortress Press, 2002), 35–52.
- Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power (New York: PublicAffairs, 2019), 8–11.
- Frank Pasquale, The Black Box Society: The Secret Algorithms That Control Money and Information (Cambridge, MA: Harvard University Press, 2015), 1–17.
- Safiya Umoja Noble, Algorithms of Oppression: How Search Engines Reinforce Racism (New York: New York University Press, 2018), 1–14.
- Cathy O’Neil, Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy (New York: Crown, 2016), 3–11.
- Antoinette Rouvroy and Thomas Berns, “Algorithmic Governmentality and Prospects of Emancipation,” Réseaux 177, no. 1 (2013): 163–96.
- José van Dijck, The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media (Oxford: Oxford University Press, 2013), 32–35.
- Luciano Floridi, The Ethics of Information (Oxford: Oxford University Press, 2013), 65–70.
- Nick Couldry and Ulises A. Mejias, The Costs of Connection: How Data Is Colonizing Human Life and Appropriating It for Capitalism (Stanford, CA: Stanford University Press, 2019), 1–18.
- Frank Pasquale, The Black Box Society, 3–17.
- Cathy O’Neil, Weapons of Math Destruction, 21–24.
- Safiya Umoja Noble, Algorithms of Oppression, 181–86.
- Ruha Benjamin, Race after Technology: Abolitionist Tools for the New Jim Code (Cambridge: Polity, 2019), 44–48.
- Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism, 376–428.
- James K. A. Smith, Desiring the Kingdom: Worship, Worldview, and Cultural Formation (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2009).
- Augustine, The City of God against the Pagans.
- Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q. 1, a. 8.
- John Calvin, Institutes of the Christian Religion, trans. Henry Beveridge (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 2008).
- Antonio Spadaro, Cybertheology: Thinking Christianity in the Era of the Internet, trans. Maria Way (New York: Fordham University Press, 2014).
- Heidi A. Campbell and Ruth Tsuria, Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media (London: Routledge, 2021).
- Gustavo Gutiérrez, A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation, trans. Caridad Inda and John Eagleson (Maryknoll, NY: Orbis Books, 1988), 9–15.
- Alkitab, Yes. 44:9–20.
- Alkitab, Yoh. 1:1–3.
- Alkitab, Kol. 1:15–17.
- Alkitab, Rm. 12:2.
- Alkitab, 1 Yoh. 4:1.
- Dharma Leksana, Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital, disertasi doktoral, STT Dian Harapan Jakarta. Disertasi tersebut menempatkan algoritma sebagai locus theologicus baru dan menegaskan bahwa Logos tetap menjadi pusat iman Kristen di tengah logika algoritmik.
- Dharma Leksana, Teologi Algoritma: Peta Konseptual Iman di Era Digital. Disertasi tersebut juga menegaskan bahwa gereja perlu bergerak dari posisi pengguna pasif teknologi menuju komunitas kritis dan agen transformasi yang mampu mengarahkan penggunaan teknologi dalam terang iman Kristen.

Note:
Artikel diatas adalah BAB 9 dari buku saya berjudul : ““TEOLOGI ALGORITMA: Peta Konseptual Iman di Era Digital”https://penerbitdharmaleksana.com/2026/09/08/teologi-algoritma-peta-konseptual-iman-di-era-digital/
