Ketum WKPUB Anjangsana ke Kesbangpol Jakarta Timur, Perkuat Sinergi Kerukunan Lintas Iman
Detiknews.com – Jakarta Timur — Upaya memperkuat jalinan kemitraan antara masyarakat sipil dan pemerintah kembali ditegaskan melalui anjangsana Ketua Umum Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Bersama (WKPUB), Pdt. Emeritus Hosea Sudarna, S.Th., M.Si., ke kantor Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Administrasi Jakarta Timur, Rabu (28/1/2026). Audiensi yang berlangsung di kantor Kesbangpol, Jl. Dr. Soemarno Blok D Lantai 11, Pulogebang, ini menjadi momentum strategis bagi penguatan sinergi kerukunan lintas agama dan kebangsaan.
Didampingi Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si., serta Carlla Paulina, M.Th. dari Bidang Komunikasi dan Media WKPUB, pertemuan tersebut diarahkan untuk membangun kemitraan konkret antara WKPUB dan pemerintah daerah sebagai sesama pemangku kepentingan dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat majemuk.
Dalam pertemuan itu, Pdt. Hosea Sudarna menegaskan bahwa WKPUB lahir dan bertumbuh dengan satu visi utama, yakni “Mewujudkan persaudaraan sejati antar sesama anak bangsa.” Menurutnya, visi tersebut bukan sekadar jargon organisasi, melainkan panggilan hidup yang relevan di tengah realitas sosial yang sarat kompetisi, segregasi, dan potensi konflik.
“Persaudaraan sejati bukanlah keseragaman, melainkan kemampuan merangkul perbedaan tanpa kehilangan identitas. Di situlah iman bertemu dengan tindakan nyata,” ungkap Pdt. Hosea. Ia menekankan bahwa WKPUB berkomitmen menghadirkan iman yang hidup, iman yang bekerja melalui solidaritas sosial dan pelayanan konkret.
Lebih lanjut, misi WKPUB dijelaskan mencakup pengembangan iman yang berdampak sosial, penghayatan kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta pelayanan nyata di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Bagi WKPUB, pelayanan tersebut merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam praksis keseharian masyarakat.
Nilai-nilai dasar seperti kasih, kepedulian, persaudaraan lintas batas, keadilan sosial, gotong royong, dan integritas menjadi fondasi gerak WKPUB. Nilai-nilai ini pula yang hendak disinergikan dengan program dan kebijakan pemerintah, khususnya di bidang penguatan persatuan dan ketahanan sosial.
Dr. Dharma Leksana menambahkan dimensi historis perjalanan WKPUB yang telah menapaki lebih dari seperempat abad. Ia mengingatkan bahwa organisasi ini lahir dari keprihatinan mendalam atas luka konflik sosial 1998, dan tumbuh melalui doa lintas iman serta kerja-kerja kemanusiaan di akar rumput.
“WKPUB adalah perjalanan tentang manusia, iman, dan bangsa. Dari program gizi anak, doa lintas agama, pendampingan masyarakat adat seperti Baduy dan Samin, hingga kemitraan melawan narkoba, radikalisme, dan hoaks—semuanya berakar pada nilai persaudaraan sejati,” ujarnya. Ia menilai, setelah tumbuh dalam kemandirian, sudah saatnya WKPUB bermitra lebih erat dengan pemerintah agar visi dan misinya berkembang secara nasional.
Kepala Sub Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Administrasi Jakarta Timur, Eliezer Hutapea, M.Si., menyambut positif harapan tersebut. Ia mengaku telah melihat langsung kiprah WKPUB, termasuk kehadirannya dalam kegiatan Syukur Awal Tahun 2026 di HKBP Kramat Jati.
“Kegiatan kerukunan umat beragama yang luar biasa itu mendorong saya untuk ikut menjembatani WKPUB dengan pemerintah,” kata Eliezer. Ia bahkan mendorong agar WKPUB memperluas kiprahnya ke tingkat nasional melalui pembentukan struktur organisasi dari level kota, provinsi, hingga pusat. “Saya siap membantu dan mendampingi agar visi dan misi WKPUB benar-benar terlaksana,” tegasnya.
Meski berlangsung sekitar satu jam di tengah padatnya agenda kerja, audiensi tersebut menghasilkan sejumlah arahan strategis yang dinilai menjadi solusi konkret bagi langkah WKPUB ke depan. Pertemuan pun ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama dan diakhiri dengan sesi foto bersama.
Pdt. Hosea Sudarna mengapresiasi arahan dan dukungan Kesbangpol Jakarta Timur. Ia menyatakan bahwa dalam waktu dekat WKPUB akan segera membentuk kepengurusan yang lebih terstruktur agar dapat bertumbuh sebagai organisasi berskala nasional, sekaligus terus menjadi jembatan persaudaraan di tengah keberagaman bangsa.
(Carlla Paulina, M.Th./Red.**)
