
PETISI KEPRIHATINAN KEBANGSAAN PWGI
“Jurnalisme Profetik untuk Indonesia yang Terkoyak”
Detik-news.com – Jakarta, Berita dan jalanan akhir–akhir ini terasa panas, penuh teriakan dan amarah yang membubung tinggi. Orang–orang turun ke jalan, suara mereka juga berhamburan di media sosial. Namun di balik dentuman itu ada wajah–wajah yang tak pernah masuk headline: mereka yang terluka, yang kehilangan, yang mendadak jadi korban.
Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI), dengan hati yang pilu, menuliskan Petisi Keprihatinan Kebangsaan ini—sebuah suara kecil di tengah hiruk, sebuah doa agar bangsa ini tidak semakin tenggelam dalam kegelapan. Kami percaya Indonesia bukan sekadar arena rebutan kuasa, melainkan rencana Tuhan bagi kita bersama.
Kami mengingatkan: jurnalisme bukan corong amarah, bukan pemantik api. Jurnalisme sejati adalah marturia—kesaksian yang setia, membela kebenaran, memberi harapan. Di tengah riuh hoaks, opini liar, dan framing yang memecah belah, wartawan dipanggil untuk menyalakan pelita, bukan mengipas bara.
Keprihatinan rakyat jangan dipandang sekadar gangguan politik, tapi sebagai jeritan nurani bangsa. Saat pemimpin sibuk berpesta pora kekuasaan, rakyat terhimpit korupsi dan kesewenangan. Dari sinilah kami berseru: biarlah informasi yang keluar dari pena dan kamera kita menggugah pertobatan—bahkan bagi mereka yang selama ini menutup mata dan telinga.
PWGI mengajak semua umat beragama dan berkeyakinan, semua elemen bangsa, kembali ke panggilan paling dasar: merawat kehidupan, membalut luka, memperjuangkan keadilan yang nyata. Rekonsiliasi tidak lahir dari pidato kosong, melainkan dari keberanian mengasihi di tengah perbedaan.
Kami juga mengetuk nurani para buzzer, pemain politik, bahkan rohaniawan: berhentilah menjual kebenaran. Jangan larut dalam pusaran pembenaran yang salah. Biarlah hati diterangi oleh hikmat Tuhan yang adil, agar bangsa ini tidak kehilangan arah.
Dan pada akhirnya, kami menundukkan kepala mengingat mereka yang terinjak di jalanan sejarah: seperti Mas Affan, driver ojol yang tewas tanpa bisa membela diri, menjadi martir kecil dari amukan bangsa yang kehilangan kendali. Bersamanya ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan anak bangsa yang terluka, yang bungkam, yang terpaksa menelan pahit ketidakadilan.
PWGI percaya, jurnalisme profetik bukan sekadar mencatat peristiwa, melainkan menjawab panggilan Tuhan—membela yang lemah, menegur yang kuat, dan menyuarakan damai di tengah gaduh.
Kami tetap cinta pada bangsa ini, sekalipun hati kami hancur.
Kami tetap berharap, sekalipun jalan terlihat gelap.
Karena Tuhan sayang semua.
Dewan Pendiri Perkumpulan Wartawan Gereja Indonesia (PWGI)
- Dharma Leksana, S.Th., M.Si. (Gereja Kristen Jawa/ GKJ – Profesional Pers)
- Pdt. Jahenos Saragih, S.Th., M.Th., MM. (Gereja Kristen Protestan Simalungun/ GKPS)
- Carlla Paulina, S.Th. (GBI)
- Kolonel (Purn.) Dr. Ir. Sukanto Hadi, MT. ( Kaprodi Teknik Geomatika Unjani)
- Pdt. Dr. Sugeng Prihadi, S. Th, M. Min, M. Th. (Gereja Kristen Jawa / GKJ Slawi)
- Pdt. Hosea Sudarna, S.Th. (GKJ Jakarta)
- Pdt. Dr. Andi Eduarto Silalahi (Rektor STT Arrabona – Gereja POUK)
- Ribut Karyono, M.Th.
- Pdt. Johanes Imanuel Tuwaidan, S.Th., M.Min.