
Detik-news.com – Bekasi – Melansir berita https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/05/08104271/cerita-keluarga-di-bekasi-hidup-terimpit-di-rumah-yang-ditelan-bumi-dan yang menceritakan tentang sebuah gang sempit di RT 01/RW 08, Kampung Sawah, Kelurahan Bintara Jaya, berdiri sebuah rumah kontrakan yang kian hari kian ambles. Atapnya rendah, dindingnya rapuh, dan tanahnya terus menurun, seakan bangunan itu perlahan ditelan bumi.
Meski kondisi tak lagi layak huni, rumah tersebut tetap menjadi tempat berteduh bagi keluarga Maryani (39) atau akrab disapa Yani. Bersama suaminya, Wismo (45), ia membesarkan dua putri kecil mereka—Siska Setiangingsih (13) dan Mutia Azahra Salsabila (11).
Tumbuh di Rumah yang Menyusut
Siska dan Mutia tumbuh dengan realitas yang memprihatinkan. Plafon rumah kontrakan mereka kini hanya setinggi 180 sentimeter. Setiap masuk atau keluar, mereka harus menundukkan kepala agar tidak terbentur.
“Dulu waktu pertama kali di sini, rumahnya tinggi. Anak-anak masih kecil. Sekarang mereka makin besar, tapi rumahnya justru makin pendek,” tutur Yani lirih, Senin (4/8/2025).
Rumah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan beristirahat, bagi anak-anak ini justru menjadi tempat penuh kewaspadaan. “Kalau nutup pintu harus pelan-pelan. Kalau kencang takut roboh,” tambahnya.
Malam yang Tak Pernah Tenang
Ketika malam tiba, keluarga ini sulit menikmati tidur nyenyak. Setiap kali hujan deras mengguyur atau angin kencang bertiup, rasa cemas selalu menghantui.
“Pernah balok di dapur jatuh. Sejak itu, anak-anak sering takut tidur. Saya juga selalu khawatir rumahnya ambruk,” ujar Yani.
Siska dan Mutia terbiasa tidur merapat kepada orang tua mereka, mencari rasa aman yang sebenarnya rapuh. Bagi mereka, suara hujan bukan lagi pengantar mimpi, melainkan pertanda bahaya.
Bertahan Karena Keterbatasan
Yani sadar rumah ini tidak layak ditinggali. Namun, keterbatasan ekonomi membuat mereka tetap bertahan. Harga sewa rumah yang relatif murah menjadi alasan utama.
“Kalau punya pilihan, pasti saya pindah. Tapi untuk sewa rumah lain, kami tidak sanggup,” ucap Yani dengan nada pasrah.
Harapan Akan Kepedulian
Kisah keluarga Yani adalah potret kecil perjuangan warga kecil di tengah keterbatasan. Mereka tetap bersekolah, tetap tersenyum, dan tetap mencoba bertahan meski ruang hidup mereka kian sempit.
Di tengah situasi ini, Yani berharap ada perhatian dari pemerintah setempat, khususnya Kelurahan Bintara Jaya. “Saya cuma ingin rumah yang layak buat anak-anak. Supaya mereka bisa belajar dengan tenang, tidur tanpa takut, dan punya masa depan yang lebih baik,” katanya.
Respon Pemerintah Kelurahan ?
Pihak Kelurahan Bintara Jaya sendiri mengaku prihatin atas kondisi warganya. Seorang aparat kelurahan menyampaikan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti laporan ini dan berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Kasus seperti ini menjadi perhatian kami. Kami tidak ingin ada warga yang hidup dalam kondisi membahayakan. Kelurahan siap hadir, mencarikan solusi, dan mendampingi warga yang membutuhkan,” ujar Lurah Bintara Jaya, saat dikonfirmasi.
Potret Ketegaran dan Tanggung Jawab Bersama
Rumah ambles di Kampung Sawah bukan sekadar bangunan rapuh, melainkan simbol ketegaran keluarga kecil yang bertahan dengan doa dan harapan. Namun, kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kepedulian bukan hanya milik satu keluarga, melainkan tanggung jawab bersama—pemerintah, masyarakat, dan semua pihak yang peduli.
Anak-anak seperti Siska dan Mutia berhak mendapatkan tempat tinggal yang aman, sama seperti anak-anak lain di luar sana. Kehadiran pemerintah setempat diharapkan mampu membawa perubahan nyata, agar mimpi mereka tidak lagi tumbuh di bawah atap yang hampir runtuh.
(Mas_Dharma EL)